- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan APBN 2026 sebesar Rp3.800 triliun dinilai belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan.
- Belanja pemerintah hanya berkontribusi sekitar 7 hingga 10 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan saat ini.
- Strategi pemerintah fokus mengoptimalkan 10 persen APBN untuk mengendalikan 90 persen sektor swasta agar pertumbuhan ekonomi berjalan lebih cepat.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kalau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak cukup untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menkeu Purbaya menilai kalau APBN 2026 saat ini ada di kisaran Rp 3.800 triliun. Sedangkan untuk 2027, APBN diproyeksikan mencapai Rp 4.200 triliun.
"Kalau kita lihat, APBN kita cukup besar kan? Sekarang hampir 4000 (triliun). Sekarang 3.800 ya? Tahun depan mungkin 4.200 (triliun) ya," katanya dalam kuliah umum di Acara Puncak Dies Natalis ke-11 Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN di Kampus PKN STAN, Bintaro, Tangerang Selatan, Jumat (10/7/2026).
Tapi jika dibandingkan dengan kontribusinya ke ekonomi, Purbaya menilai kalau peran APBN cukup kecil. Sebab Belanja Pemerintah hanya berkontribusi ke 7-10 persen terhadap ekonomi.
"Jadi, APBN saja tidak bisa menciptakan pertumbuhan yang cepat, dan tidak juga bisa menciptakan kesejahteraan. Kalau itu saja, karena kontribusi kita ke ekonomi hanya 7-10 maksimal," lanjutnya.
Maka dari itu, Purbaya mengungkapkan strategi ekonomi tersembunyi yang dijalankan Presiden RI Prabowo Subianto. Pemerintah sekarang ingin 10 persen Belanja Pemerintah dibuat optimal.
Sedangkan 90 persen sisanya yang dikontribusikan dari sektor swasta (private sector) bakal dijalankan lebih cepat.
"Jadi strategi yang tersembunyi dari Bapak Prabowo adalah yang 10 persen dibuat optimal, tapi yang 90 persen private sektor itu dibuat tetap berjalan terus. APBN digunakan untuk memastikan yang 10 bisa mengendalikan yang 90 persen, bukan belanjanya saja," jelas Purbaya.
Baca Juga: Riset Ungkap Masa Depan Industri Fintech RI Setelah Hadir Lebih dari 10 Tahun
Berita Terkait
-
Riset Ungkap Masa Depan Industri Fintech RI Setelah Hadir Lebih dari 10 Tahun
-
Purbaya Akan Minta Penjelasan Kemenhan soal Anggaran Rudal Brahmos India
-
PSSI Respons Keresahan Prabowo Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia: Butuh APBN
-
Prambanan Dipugar Bersama India, InJourney Bidik Lonjakan Wisatawan dan Dampak Ekonomi
-
Purbaya Ajak Investor Negara Islam Kembangkan Industri Halal di Indonesia
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
Terkini
-
Airlangga Ungkap Alasan Bali Dipilih Jadi Pusat Finansial Internasional, Jakarta dan Batam Tersisih
-
Riset Ungkap Masa Depan Industri Fintech RI Setelah Hadir Lebih dari 10 Tahun
-
Perusahaan AS Jajaki Proyek Gasifikasi Batubara dengan Danantara
-
Rupiah Menguat pada Jumat Sore, Waspadai Risiko Tertekan Pekan Depan
-
Dukung Liburan Sekolah Makin Seru, Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi
-
BRI Hadirkan ORI030 untuk Investasi ORI dengan Kupon Tetap Bulanan
-
Jembatan Enang-enang Hasil Patungan Rakyat Aceh Rp1 M Ditutup, Menteri PU Nilai Struktur Belum Kuat
-
Purbaya Akan Minta Penjelasan Kemenhan soal Anggaran Rudal Brahmos India
-
LNG Murah Industri hanya Berlaku hingga 31 Desember
-
BBM Shell Masih Kosong Hingga Saat Ini, Anak Buah Bahlil: Cerita Lama!