Bisnis / Makro
Jum'at, 10 Juli 2026 | 16:55 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam kuliah umum di Acara Puncak Dies Natalis ke-11 Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN di Kampus PKN STAN, Bintaro, Tangerang Selatan, Jumat (10/7/2026). [Dok. Kemenkeu]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan APBN 2026 sebesar Rp3.800 triliun dinilai belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan.
  • Belanja pemerintah hanya berkontribusi sekitar 7 hingga 10 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan saat ini.
  • Strategi pemerintah fokus mengoptimalkan 10 persen APBN untuk mengendalikan 90 persen sektor swasta agar pertumbuhan ekonomi berjalan lebih cepat.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kalau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak cukup untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menkeu Purbaya menilai kalau APBN 2026 saat ini ada di kisaran Rp 3.800 triliun. Sedangkan untuk 2027, APBN diproyeksikan mencapai Rp 4.200 triliun.

"Kalau kita lihat, APBN kita cukup besar kan? Sekarang hampir 4000 (triliun). Sekarang 3.800 ya? Tahun depan mungkin 4.200 (triliun) ya," katanya dalam kuliah umum di Acara Puncak Dies Natalis ke-11 Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN di Kampus PKN STAN, Bintaro, Tangerang Selatan, Jumat (10/7/2026).

Tapi jika dibandingkan dengan kontribusinya ke ekonomi, Purbaya menilai kalau peran APBN cukup kecil. Sebab Belanja Pemerintah hanya berkontribusi ke 7-10 persen terhadap ekonomi.

"Jadi, APBN saja tidak bisa menciptakan pertumbuhan yang cepat, dan tidak juga bisa menciptakan kesejahteraan. Kalau itu saja, karena kontribusi kita ke ekonomi hanya 7-10 maksimal," lanjutnya.

Maka dari itu, Purbaya mengungkapkan strategi ekonomi tersembunyi yang dijalankan Presiden RI Prabowo Subianto. Pemerintah sekarang ingin 10 persen Belanja Pemerintah dibuat optimal.

Sedangkan 90 persen sisanya yang dikontribusikan dari sektor swasta (private sector) bakal dijalankan lebih cepat.

"Jadi strategi yang tersembunyi dari Bapak Prabowo adalah yang 10 persen dibuat optimal, tapi yang 90 persen private sektor itu dibuat tetap berjalan terus. APBN digunakan untuk memastikan yang 10 bisa mengendalikan yang 90 persen, bukan belanjanya saja," jelas Purbaya.

Baca Juga: Riset Ungkap Masa Depan Industri Fintech RI Setelah Hadir Lebih dari 10 Tahun

Load More