Bisnis / Keuangan
Selasa, 21 Juli 2026 | 11:48 WIB
Ketua Pengelola Klinik KDMP Tamanmartani, Yanuri Widayati, bersama para nakes klinik. (Suara.com/Irwan Febri)
Baca 10 detik
  • Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Tamanmartani, Sleman, beroperasi sejak Juli 2025 dengan fokus utama pada layanan ekonomi dan sosial.
  • KDMP mengembangkan unit usaha strategis seperti distribusi pupuk bersubsidi, gerai sembako, dan klinik kesehatan pertama bagi seluruh anggotanya.
  • Inovasi koperasi ini berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pemberdayaan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, serta akses kesehatan terjangkau.

"Ke depan kami akan menjadi offtaker-nya petani. Selama ini kan kami baru nyuplai pupuknya, hasilnya belum kami terima. Besok hasilnya kami siapkan di situ, kami keringkan, terus digiling. Harus punya gudang," kata Mawardi.

Tidak Bersaing dengan Usaha Rakyat

Lebih lanjut, unit usaha di KDMP Tamanmartani tidak bersaing dengan usaha milik pribadi masyarakat. Di koperasi ini juga ada toko kelontong dari Unit Gerai Sembako.

Namun, alih-alih bersaing, koperasi ini memilih menjadi pemasok untuk toko-toko kelontong di wilayah Tamanmartani, terutama produk beras dan minyak dengan harga di bawah pasaran.

"Kami kelontong juga ada, tapi statusnya bukan kelontong biasa, tapi pemasok. Jadi, bukan saingan teman-teman," ujar Mawardi.

"Malah bantu masok produk, seperti minyak goreng, terus beras, terus sama apa permintaan dari teman-teman," imbuhnya.

Kemudian, Yunita selaku pengurus KDMP Tamanmartani bagian Gerai Sembako bercerita bahwa ada sekitar 15 toko kelontong di Tamanmartani yang dipasok oleh KDMP.

Yunita selaku pengurus KDMP Tamanmartani bagian Gerai Sembako menunjukkan minyak goreng dan berat yang dipasok ke toko kelontong. (Suara.com/Irwan Febri)

"Yang disupplierkan ke toko-toko kelontong itu, kami itu baru beras SPHP sama minyak goreng. Kalau yang lain-lain masih sambil jalan. Itu harganya harga tenkulak," jelas Yunita.

"Kalau di Tamanmartani ini kan ada paguyupan toko kelontong, sekitar 15 lebih toko kelontong," lanjutnya.

Baca Juga: Pemerintah Belum Punya Skema Jelas, Kopdes Merah Putih Picu Kekhawatiran Warung Kecil

Sementara LPG 3 Kg, dikarenakan stok yang terbatas, KDMP Tamanmartani langsung menjualnya ke masyarakat dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp18 ribu.

"Kalau LPG itu masyarakat sekitar sini. Kalau suplai ke kelontong itu kurang karena kami hanya dapat 300 per bulan. Kalau harga kami HET Rp18 ribu," tegas Yunita.

Satu-satunya KDMP yang Punya Klinik di Indonesia

Papan nama Klinik KDMP Tamanmartani yang berisikan informasi jam pelayanan dan tim tenaga medis. (Suara.com/Irwan Febri)

Salah satu unit yang keren dari KDMP ini adalah klinik dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama (Faskes 1) atau Pratama. Klinik ini diresmikan pada 25 Mei 2026 dan menjadi satu-satunya KDMP di Indonesia yang memiliki klinik.

Klinik KDMP Tamanmartani memiliki pelayanan Poli Umum, Poli KIA, hingga Poli Gigi sesuai standar Permenkes Nomor 14 Tahun 2021. Diharapkan bisa menjadi fasilitas kesehatan yang lengkap bagi warga sekitar.

Sebab, untuk saat ini, jarak ke puskesmas terdekat, yaitu Puskesmas Kalasan, terbilang cukup jauh. Sekitar 6 kilometer atau 14 menit menurut perhitungan google maps.

Proses kegiatan pelayanan kesehatan di Klinik Tamanmartani. (Suara.com/Irwan Febri)

Selain itu, yang menarik dari KDMP Tamanmartani ini adalah tenaga kesehatan dan lain-lain berasal dari Tamanmartani. Jadi, selain kualifikasi pendidikan dan profesionalitasnya, mereka juga warga lokal.

Ketua Pengelola Klinik KDMP Tamanmartani, Yanuri Widayati, mengaku bahwa pemilihan SDM (sumber daya manusia) yang dari warga sekitar adalah instruksi dari Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata.

Ketua Pengelola Klinik KDMP Tamanmartani, Yanuri Widayati, ketika menunjukkan ruang Poli Gigi. (Suara.com/Irwan Febri)

"Karena memang dari awal Pak Lurah menghendaki klinik ini pemberdayaan warga. Makanya saya itu mencari dokter umum sampai cleaning service," ujar Yanuri.

"Cleaning service itu kami berdayakan kader kesehatan. Karena klinik dengan kader itu tidak bisa dipisahkan," imbuhnya.

"Sehingga, diharapkan ada rasa memiliki dari masyarakat atau anggota KDMP agar klinik baru ini bisa memberikan pelayanan yang terbaik demi kesehatan," imbuhnya.

Salah satu warga Tamanmartani yang bekerja di klinik ini adalah Ginarsih Putri Rastiti yang menjadi apoteker. Berkat adanya Klinik KDMP Tamanmartani, dirinya bisa kembali bekerja.

Apoteker Klinik KDMP Tamanmartani, Ginarsih Putri Rastiti, ketika ditemui di ruang apotek pada Senin (21/7/2026). (Suara.com/Irwan Febri)

Ginarsih sebelumnya bekerja di Rumah Sakit (RS) Sadewa Yogyakarta. Setelah memiliki keluarga, memutuskan untuk rehat sejenak mengurus suami dan anak.

Saat hendak mencoba kembali melamar pekerjaan, ada berbagai syarat seperti usia yang menjadi halangan. Oleh karena itu, kehadiran klinik ini begitu dia syukuri karena bisa memberi kesempatan untuk kembali berkarya.

"Iya saya orang Tamanmartani. Sebelum di sini, saya lima tahun ibu rumah tangga. Tapi sebelum itu, saya kerja di Rumah Sakit Sadewa," ungkap Ginarsih.

"Alhamdulillah banget. Saya nggak nyangka bisa kerja lagi sebagai apoteker di usia saya. Selama ini kan saya enggak diam saja, sebenarnya nyari-nyari kerja juga. Tapi pasti kan kepentok umur," lanjutnya.

"Misal ada loker dicari maksimal 35 tahun.  Saya sudah 36 tahun. Eh di sini direkrut diwawancara sama Bu Yanuri pengelola KDMP Kesehatan. Alhamdulillah diterima karena sesuai dengan persyaratan yang dibutuhkan," tuturnya menambahkan.

Warga Tamanmartani, Kristina, saat membeli kebutuhan obat di Apotek Klinik KDMP Tamanmartani pada Senin (21/7/2026). (Suara.com/Irwan Febri)

Masyarakat pun mendapatkan kemudahan berkat adanya Klinik KDMP Tamanmartani. Salah satu warga, Kristina, juga bisa membeli obat-obatan dengan lebih mudah. Jarak juga lebih dekat, sehingga lebih memudahkan.

"Ya enak ya, lebih dekat. Dulu periksa di sini, dulu ada puskesmas pembantu di sini, tapi kemudian pindah," ujar Kristina.

"Ini kan saya rutin obat ini, setiap hari minumnya. Dulu kalau periksa kan dikasih untuk satu bulan. Tapi karena pindah, saya beli sendiri sesuai resep," lanjutnya bercerita.

Klinik KDMP Tamanmartani ini terus berbenah. Salah satu yang tengah diupayakan adalah menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan, supaya bisa lebih memudahkan warga. Persyaratan pun tengah dipenuhi, termasuk minimal beroperasi selama tiga bulan.

Harapan KDMP Tamanmartani ke Depan

Mawardi selaku Ketua KDMP Tamanmartani menegaskan bahwa sejak awal didirikan pada Juli 2025, niat kalurahan adalah untuk dan demi kepentingan masyarakat Tamanmartani dan sekitarnya.

KDMP Tamanmartani bisa membantu pemerintah menyejahterakan masyarakat, setidaknya dari wilayah kecil Tamanmartani.

"Kalau KDMP ini dari awal tujuannya untuk menyejahterakan warga. Paling tidak bisa membantu pemerintah untuk menyejahterakan warganya, terutama wilayah koperasi," harap Mawardi.

Selain itu, Mawardi juga berharap unit-unit usaha KDMP bisa terus berjalan sukses dan berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat.

"Dengan segala yang ada, semoga ke depan bisa, artinya dari anggota untuk anggota, terwujud di KDMP Tamanmartani. Jadi, usaha-usaha yang ada bisa berjalan dan tidak berseberangan dengan masyarakat dan bersinergi dengan siapapun," imbuhnya.

Potret sebagian unit KDMP Tamanmartani. (Suara.com/Irwan Febri)

Pengalaman melihat langsung KDMP Tamanmartani memberikan pelajaran bahwa koperasi tidak harus terjebak pada pola lama sebagai lembaga simpan pinjam semata.

Koperasi dapat tumbuh menjadi pusat pelayanan masyarakat yang menyentuh hampir seluruh kebutuhan warga, mulai dari pangan, pertanian, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi.

Kuncinya adalah keberanian membaca kebutuhan masyarakat, membangun kolaborasi dengan pemerintah desa, serta mengelola usaha secara profesional tanpa mematikan usaha rakyat yang telah ada.

Model seperti inilah yang menurut saya perlu diperbanyak di berbagai daerah. Tentu setiap desa memiliki karakteristik, potensi, dan tantangan yang berbeda.

Oleh karena itu, yang perlu direplikasi bukanlah bentuk unit usahanya secara persis, melainkan cara berpikirnya, yaitu koperasi harus hadir untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, bukan sekadar menjalankan kegiatan usaha.

Jika semakin banyak koperasi memiliki semangat yang sama, maka Indonesia tidak hanya memiliki koperasi yang bertahan hidup, tetapi koperasi yang memberdayakan masyarakat dan menjadi fondasi menuju Indonesia yang lebih berjaya.

Load More