Bisnis / Keuangan
Selasa, 21 Juli 2026 | 11:48 WIB
Ketua Pengelola Klinik KDMP Tamanmartani, Yanuri Widayati, bersama para nakes klinik. (Suara.com/Irwan Febri)
Baca 10 detik
  • Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Tamanmartani, Sleman, beroperasi sejak Juli 2025 dengan fokus utama pada layanan ekonomi dan sosial.
  • KDMP mengembangkan unit usaha strategis seperti distribusi pupuk bersubsidi, gerai sembako, dan klinik kesehatan pertama bagi seluruh anggotanya.
  • Inovasi koperasi ini berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pemberdayaan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, serta akses kesehatan terjangkau.

Suara.com - Selama bertahun-tahun, koperasi di Indonesia identik dengan dua hal, yakni simpan pinjam dan rapat anggota tahunan. Di banyak daerah, citra itu belum banyak berubah.

Koperasi kerap dipandang sebagai lembaga yang hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan pinjaman modal. Padahal, semangat koperasi sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar aktivitas keuangan.

Pengalaman saya mengunjungi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tamanmartani di Kalasan, Sleman, pada Senin (20/7/2026), memberikan perspektif berbeda. Di tempat ini, koperasi hadir sebagai pusat layanan ekonomi sekaligus layanan sosial masyarakat.

Potret sebagian KDMP Tamanmartani. (Suara.com/Irwan Febri)

KDMP Tamanmartani mulai beroperasi sejak Juli 2025. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, sudah memiliki 1.118 anggota. Setiap anggota koperasi ini memiliki simpanan pokok Rp100 ribu dan simpanan wajib Rp5 ribu, yang menjadi modal awal.

"Jadi Pak Lurah itu ada program Sambang Dusun, untuk menyalurkan informasi dari kalurahan. Kami diajak ke situ, difasilitasi kalurahan, seperti LCD hingga snack. Itu kan tidak semua Pak Lurah seperti itu," kata Ketua KDMP Tamanmartani, Mawardi, kepada Suara.com, Senin (20/7/2026).

"Makanya bertambahnya anggota cepat, anggota sudah 1.118 sekarang. Ini ngefek ke modal karena setiap anggota punya simpanan pokok 100 ribu, wajibnya 5 ribu per bulan," imbuhnya.

Ketua KDMP Tamanmartani, Mawardi, ketika ditemui pada Senin (21/7/2026). (Suara.com/Irwan Febri

Modal awal yang terkumpul digunakan untuk membangun sejumlah unit usaha yang berpihak pada kebutuhan masyarakat sekitar, mulai dari gerai sembako, usaha pertanian, klinik, apotek, budi daya ikan, hingga menjadi pemasok SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).

Unit Usaha Disesuaikan dengan Kebutuhan Masyarakat

Di Tamanmartani, mayoritas masyarakatnya adalah petani, ada 19 Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Oleh karena itu, salah satu unit usaha yang dikembangkan adalah Unit Saprotan (Sarana Produksi Pertanian), terutama penyediaan pupuk.

Baca Juga: Pemerintah Belum Punya Skema Jelas, Kopdes Merah Putih Picu Kekhawatiran Warung Kecil

KDMP Tamanmartani dipercaya menjadi penyalur pupuk bersubsidi dengan volume mencapai sekitar 400 ton per tahun, sesuai Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Penyaluran pupuk pun telah mencapai target sebanyak 400 ton kepada kelompok tani di wilayah Tamanmartani per Juli 2026.

Ketua KDMP Tamanmartani, Mawardi, ketika meninjau Unit Saprotan yang mengelola pupuk. (Dok. KDMP Tamanmartani)

"Yang kenceng juga itu pupuk. Di Tamanmartani ini kami punya 19 kelompok tani. Semua sudah dikomunikasikan belanjanya pupuk lewat KDMP. Iya semua ikut di situ," ujar Mawardi.

"Tamanmartani ini kalau serapan pupuk di Indonesia itu, KDMP-nya nomor satu. Sudah 200 ton pada Desember. Kalau sekarang ya sudah 400-an ton. Makanya mendukung sekali," imbuhnya.

Proses pengangkutan pupuk di KDMP Tamanmartani. (Dok. KDMP Tamanmartani)

Tak berhenti di sini, KDMP Tamanmartani ke depan tengah mempersiapkan perkembangan Unit Saprotan agar bisa menjadi offtaker yang menyerap hasil pertanian masyarakat.

Harapannya, petani tak lagi kesulitan memasarkan hasil panennya. Nantinya hasil panen tersebut dibeli oleh KDMP Tamanmartani, diolah, lalu dipasarkan sebagai produk unggulan desa.

Load More