- Mirae Asset memperkirakan Rp199,54 triliun dana asing terancam keluar jika Indonesia turun kasta di MSCI.
- IHSG berpotensi tertekan 20% hingga keputusan MSCI pada Juni 2027.
- Investor disarankan wait and see, menjaga kas, dan memburu saham berfundamental kuat serta berdividen tinggi.
Suara.com - Tekanan terhadap pasar saham Indonesia berpotensi belum berakhir. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperingatkan risiko kaburnya dana asing hingga US$11 miliar atau sekitar Rp199,54 triliun jika Indonesia benar-benar diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Mengacu kurs tengah Rp18.140 per dolar AS pada Kamis (5/11/2026), potensi dana asing yang terancam keluar tersebut setara Rp145,12 triliun hingga Rp199,54 triliun. Dari jumlah itu, sekitar US$3 miliar atau Rp54,42 triliun berpotensi menjadi arus keluar pasif (forced passive outflow).
Ancaman tersebut muncul di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Selasa (3/11), IHSG merosot 3,78% ke level 4.904. Sebanyak 624 saham melemah, sementara hanya 57 saham menguat. Investor asing juga mencatatkan jual bersih Rp760 miliar, terutama pada saham BBRI, ANTM, dan BUMI.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, bahkan menempatkan penurunan status Indonesia menjadi Standalone Market sebagai skenario dasar (base case). Penilaian ini mempertimbangkan posisi default yang disampaikan MSCI, penegakan hukum terhadap praktik coordinated trading, serta rekam jejak keputusan MSCI sebelumnya.
Dari 12 konsultasi terkait penurunan klasifikasi pasar yang dilakukan MSCI dalam sekitar 20 tahun terakhir, sebanyak 10 di antaranya berakhir dengan reklasifikasi.
Mirae Asset memperkirakan tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih berpotensi berlanjut. Berdasarkan pengalaman historis negara-negara yang mengalami penurunan klasifikasi, IHSG berisiko mengalami tekanan lanjutan sekitar 20% dalam denominasi dolar AS hingga keputusan MSCI pada Juni 2027.
Di tengah risiko tersebut, valuasi IHSG telah turun ke rasio forward price-to-earnings (P/E) sekitar 7,3 kali dan price-to-book value (P/BV) 1,36 kali. Namun, investor masih perlu mewaspadai potensi penurunan estimasi laba, terutama pada saham perbankan berkapitalisasi besar.
Wilbert menyarankan investor menerapkan strategi wait and see, menjaga likuiditas, serta menyiapkan dana tunai. Investor juga dapat mulai mencermati saham dengan eksposur asing relatif rendah dan potensi dividen tinggi.
Menurutnya, perkembangan kebijakan MSCI, stabilitas rupiah, dan arus modal asing akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar saham domestik ke depan.