- Harga emas global melonjak ke level US$4.124,89 per troy ons pada hari Kamis, 5 November 2026.
- Kenaikan dipicu oleh pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi akibat pemilu sela Amerika Serikat.
- Dampak positif tersebut turut mendorong kenaikan harga pada logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan paladium.
Suara.com - Pergerakan harga emas di pasar global kembali menunjukkan tajinya dengan melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir pada sesi perdagangan hari Kamis (5/11/2026).
Momentum kebangkitan atau rebound logam mulia ini didorong oleh imbas rentetan sentimen dari hasil pemilihan umum sela (midterm election) di Amerika Serikat (AS), yang efek kejutnya langsung menjalar secara masif ke seluruh denyut pasar keuangan dan pasar minyak mentah dunia.
Berdasarkan data perdagangan pada pukul 07.52 GMT, harga emas di pasar spot mencatatkan kenaikan sebesar 1,6 persen, membawanya bertengger kokoh di posisi US$4.124,89 per troy ons.
Bahkan, pada awal sesi perdagangan di hari yang sama, instrumen safe haven ini sempat menyentuh level US$4.146,63 per troy ons, yang merupakan titik harga puncaknya sejak 20 Oktober lalu.
Rapor hijau ini melanjutkan tren pertumbuhan yang sangat luar biasa pada hari Rabu, di mana harga emas batangan sukses melesat sekitar 3,4 persen. Loncatan persentase tersebut secara resmi dicatat sebagai keuntungan harian terbesar yang pernah dibukukan oleh emas sejak 19 Agustus.
Sentimen positif serupa juga menular ke pasar berjangka, di mana kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan Desember naik 1,5 persen ke posisi US$4.135,40.
Dolar Loyo dan Imbal Hasil Obligasi Turun
Analis Pasar dari XS.com, Linh Tran, membedah fenomena kebangkitan harga emas ini. Ia menilai bahwa pelemahan indeks dolar AS yang dikombinasikan dengan melandainya tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah (Treasury) AS menjadi katalis utama yang membantu emas kembali merangkak naik dan bertahan di atas level psikologis krusial US$4.000 per troy ons.
"Jika aliran investasi dan pergerakan imbal hasil terus memberikan dukungan, emas dapat stabil di atas US$4.000, juga membuka peluang untuk pemulihan menuju US$4.200, diikuti oleh US$4.400," terang Tran menggarisbawahi pentingnya posisi emas untuk terus bertahan di atas ambang batas tersebut demi menjaga prospek teknikalnya.
Di sisi lain, pergerakan indeks dolar AS memang terpantau kian terpuruk hingga merosot ke titik terendahnya dalam kurun waktu lebih dari satu bulan terakhir.
Koreksi pada mata uang greenback ini berjalan beriringan dengan yield Treasury AS bertenor 10 tahun yang juga terjatuh ke level paling rendah sejak 10 September. Secara fundamental ekonomi, nilai tukar dolar yang melemah membuat emas batangan yang diperdagangkan dalam mata uang AS tersebut menjadi jauh lebih terjangkau bagi para investor yang memegang portofolio mata uang asing lainnya.
Eskalasi harga emas ini sejatinya memiliki korelasi yang sangat erat dengan dinamika politik internal AS dan pasar energi global. Harga minyak mentah dunia memang terpantau sedikit merangkak naik, namun pergerakan ini terjadi tepat setelah komoditas energi tersebut mengalami tren penurunan selama empat hari berturut-turut.
Pelemahan harga minyak sebelumnya sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar dalam merespons hasil pemilu sela AS. Kekalahan yang diderita oleh Partai Republik—yang mengusung Presiden Donald Trump—di arena kongres minggu ini dinilai oleh pasar mampu mereduksi risiko eskalasi lebih lanjut terkait potensi intervensi perang AS dalam konflik antara Israel dan Iran.
Meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah ini berdampak langsung pada penurunan harga energi, yang pada gilirannya berhasil meredakan tekanan inflasi secara global.
Berkurangnya ancaman inflasi membuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) akan menahan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama menjadi kian menyusut.