Profil dan Karier Simon Tahamata
Simon Melkianus Tahamata (lahir 26 Mei 1956) merupakan mantan pemain sepak bola profesional Belanda yang pernah bermain untuk klub Belanda dan Belgia.
Ia bermain 22 kali untuk tim nasional Belanda, mencetak dua gol. Tahamata lahir di Belanda, tetapi memperoleh kewarganegaraan Belgia pada tahun 1990.
Tahamata juga memiliki darah Indonesia. Kedua orang tuanya berasal dari Maluku, Indonesia sebelum akhirnya menetap di Vught, Belanda, pada tahun 1956.
Sebagai pemain, ia berposisi sebagai pemain sayap kiri dan terkenal karena kecepatannya, kemampuan menggiring bola, dan tekniknya yang luar biasa.
Tahamata memulai karier sepak bolanya di klub lokal Theole pada tahun 1967. Pada tahun 1976, ia bergabung dengan Ajax Amsterdam, salah satu klub terbesar di Belanda.
Di Ajax, ia memenangkan gelar Eredivisie (Liga Utama Belanda) pada musim 1976-1977 dan mencapai semifinal Piala Eropa pada musim 1979-1980.
Setelah beberapa musim yang sukses di Ajax, Tahamata pindah ke klub Belgia Standard Liège pada tahun 1980.
Setelah beberapa musim yang sukses di Ajax, Tahamata pindah ke klub Belgia Standard Liège pada tahun 1980.
Baca Juga: Cetak Gol ke Gawang Liverpool, Kaoru Mitoma Kirim Pesan untuk Timnas Indonesia
Di sana, ia menjadi pemain kunci dan membantu tim meraih beberapa gelar juara. Setelah itu, ia juga bermain untuk klub-klub lain seperti Feyenoord, Germinal Ekeren, dan Beerschot.
Tahamata lalu bermain untuk tim nasional Belanda dari tahun 1979 hingga 1986. Ia tampil dalam 22 pertandingan dan mencetak 2 gol.
Salah satu momen terbaiknya adalah ketika ia mencetak gol kemenangan dalam pertandingan melawan Republik Irlandia pada tahun 1980.
Kini setelah pensiun sebagai pemain, Tahamata terjun ke dunia kepelatihan. Ia pernah menjadi asisten pelatih di beberapa klub dan juga melatih tim muda Ajax Amsterdam.
Selain itu, ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan sering memberikan pelatihan sepak bola kepada anak-anak muda.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik