Bola / Bola Dunia
Kamis, 15 Januari 2026 | 11:52 WIB
Ilustrasi Donald Trump dan Piala Dunia 2026 [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Seruan boikot Piala Dunia 2026 ramai di media sosial karena kekhawatiran keamanan di Amerika Serikat sebagai tuan rumah.
  • Mohamad Safa, direktur organisasi dengan status PBB, mengklaim membatalkan tiket karena AS dinilai tidak aman bagi turis.
  • FIFA menyatakan tiket yang sudah dibeli tidak dapat dibatalkan atau dikembalikan uangnya, sementara panitia fokus pada kesiapan acara.

Suara.com - Gelombang seruan boikot terhadap Piala Dunia 2026 ramai diperbincangkan di media sosial.

Tagar #BoycottWorldCup menjadi viral, dipicu kekhawatiran soal keamanan di Amerika Serikat, salah satu tuan rumah turnamen bersama Meksiko dan Kanada.

Sejumlah warganet menyatakan tidak akan menghadiri ajang empat tahunan tersebut, bahkan mengklaim telah membatalkan rencana perjalanan mereka.

Salah satu suara paling vokal datang dari Mohamad Safa, Direktur Eksekutif Patriotic Vision (PVA) yang memiliki status khusus di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Melalui akun X, Safa mengaku telah membatalkan tiket Piala Dunia 2026 miliknya.

Ia menyebut Amerika Serikat tidak lagi aman untuk dikunjungi oleh wisatawan asing.

“ICE bisa saja menganggap saya anggota geng, lalu saya dipenjara selama setahun tanpa dakwaan, tanpa sidang, tanpa pengacara, bahkan tanpa satu kali panggilan telepon. Amerika Serikat tidak aman untuk dikunjungi,” tulis Safa.

Dalam wawancara dengan FOX4, Safa kembali menegaskan kekhawatirannya.

Ia menilai pemerintah AS saat ini gagal melindungi warganya sendiri, sehingga keselamatan turis internasional pun patut dipertanyakan.

Baca Juga: Resmi! TikTok Jadi Mitra FIFA Piala Dunia 2026: Ada Prediksi Skor hingga Fitur AR

“Orang-orang dibunuh di siang bolong. Jika warga sendiri tak aman, bagaimana dengan turis? Bahkan presiden AS memberi sinyal bahwa hukum internasional tidak lagi penting baginya,” ujar Safa.

Di media sosial, klaim pembatalan tiket disebut mencapai ribuan orang. Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

FIFA sendiri menegaskan bahwa tiket yang telah dibeli tidak dapat dibatalkan dan tidak bisa diuangkan kembali.

Banyak pihak yang mengaku membatalkan tiket diduga merujuk pada pembatalan aplikasi tiket melalui sistem Random Selection Draw.

Sementara itu, Panitia Penyelenggara Piala Dunia 2026 wilayah Kansas City menanggapi isu boikot dengan pernyataan singkat. Juru bicara KC2026 menegaskan fokus utama mereka tetap pada kesiapan penyelenggaraan.

“Kami fokus memberikan pengalaman terbaik di Kansas City dan menyambut dunia ke kawasan Midwest,” ujar perwakilan KC2026.

Load More