Bola / Bola Indonesia
Jum'at, 16 Januari 2026 | 14:48 WIB
Kevin Diks (IG Kevin Diks)
Baca 10 detik
  • John Herdman tetap optimis membawa Timnas Indonesia juara meski tanpa pemain liga top Eropa.

  • Piala AFF 2026 berlangsung di luar kalender FIFA sehingga banyak pemain pilar absen.

  • Timnas Indonesia berada di Grup A bersaing dengan Vietnam, Singapura, Kamboja, dan Timor Leste.

Suara.com - Juru taktik Timnas Indonesia John Herdman menunjukkan sikap tenang dalam menghadapi tantangan besar menjelang turnamen regional.

Kejuaraan sepak bola bergengsi se-Asia Tenggara yakni Piala AFF 2026 dijadwalkan akan bergulir pada bulan Juli mendatang.

Namun agenda besar ini memiliki kendala teknis karena pelaksanaannya berada di luar jendela resmi kalender FIFA.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada komposisi pemain yang bisa dipanggil untuk memperkuat barisan Skuad Garuda nantinya.

Beberapa pilar utama yang berkarier di kompetisi elite Eropa diprediksi kuat akan absen membela panji merah putih.

Nama-nama besar seperti Jay Idzes dan Kevin Diks kemungkinan besar tidak mendapatkan lampu hijau dari pihak klub.

Selain mereka terdapat pula penggawa penting lain seperti Calvin Verdonk serta penjaga gawang tangguh Emil Audero.

Penyerang berbakat Ole Romeny beserta bek muda Justin Hubner juga masuk dalam daftar pemain yang sulit dilepaskan.

Ketiadaan mereka disebabkan oleh kebijakan klub yang tidak wajib melepas pemain untuk turnamen non-agenda resmi FIFA.

Baca Juga: Tekad Putus Kutukan Runner-up! Rizky Ridho Pasang Target Juara Piala AFF 2026 di Era John Herdman

Meski kehilangan kekuatan inti di lini pertahanan dan serang pelatih asal Inggris tersebut tidak merasa tertekan.

John Herdman justru melihat status Indonesia yang belum pernah memenangi trofi ini sebagai sebuah keuntungan besar.

Motivasi untuk memutus rantai kegagalan di partai puncak menjadi bahan bakar utama bagi sang pelatih anyar.

“Saya pikir fakta bahwa Timnas Indonesia belum pernah memenangi turnamen ini adalah hal yang baik bagi pelatih baru,” kata John Herdman beberapa waktu lalu.

Pernyataan tersebut merujuk pada beban mental yang lebih ringan dibandingkan melatih tim yang sudah sering juara.

Beliau merasa tantangan ini jauh lebih menarik daripada harus mempertahankan dominasi yang sudah mapan selama bertahun-tahun.

Herdman menambahkan bahwa menjadi pelatih tim yang haus gelar memberikan ruang kreativitas dan ambisi yang lebih luas.

“Karena hal yang paling tidak diinginkan adalah menjadi pelatih dari tim yang sudah menang enam kali berturut-turut, kemudian pelatih itu harus berusaha memenangi gelar ketujuh,” ucapnya.

Sejarah mencatat bahwa Indonesia sudah merasakan pahitnya kekalahan di enam laga final sepanjang keikutsertaan mereka.

Rekor tersebut kini dipandang sebagai momentum yang tepat untuk melakukan perubahan besar dalam peta sepak bola ASEAN.

Walaupun demikian ia tetap menyadari bahwa meraih supremasi tertinggi di kawasan ini memerlukan perjuangan yang sangat berat.

Berdasarkan hasil undian Timnas Indonesia akan bersaing ketat di Grup A pada babak penyisihan nanti.

Lawan yang harus dihadapi meliputi rival bebuyutan Vietnam serta tim nasional Singapura yang memiliki tradisi kuat.

Selain itu Kamboja dan pemenang kualifikasi antara Timor Leste atau Brunei Darussalam juga menjadi penghalang.

John Herdman memastikan tidak akan menganggap remeh siapapun lawan yang akan dihadapi oleh anak asuhnya.

Ketelitian dalam menyusun strategi cadangan menjadi prioritas utama tim kepelatihan guna menambal kekosongan pemain bintang.

Situasi krisis pemain ini sebenarnya juga dialami oleh negara-negara peserta lainnya di ajang Piala AFF.

Pelatih memahami bahwa klub-klub di liga top dunia tidak akan berkompromi dengan jadwal di luar FIFA.

“Setiap tim, setiap grup, akan menjadi lawan yang tangguh di kompetisi ini,” ungkap John Herdman.

Ketidaktersediaan jadwal resmi menjadi alasan logis mengapa pemain yang merumput di Italia dan Jerman tidak hadir.

“Karena tidak dalam jadwal FIFA yang tersedia, jadi secara realita, pemain Serie A atau pemain Bundesliga tidak akan bisa berpartisipasi," lanjutnya.

Bagi Herdman esensi dari turnamen ini adalah kemampuan adaptasi sebuah negara dalam memaksimalkan sumber daya yang ada.

Ia percaya bahwa tim yang paling siap secara mental dan taktik lokal akan keluar sebagai pemenang sejati.

"Ini akan menjadi level persaingan yang setara. Tim yang sukses adalah tim yang paling bisa mewakili negaranya pada saat itu dan mengambil kesempatan," pungkasnya.

Persiapan mendalam terus dilakukan guna memastikan kualitas permainan Indonesia tidak menurun drastis tanpa pemain diaspora.

Langkah rinci sedang disusun agar Indonesia bisa mengakhiri puasa gelar dan membawa pulang trofi ke tanah air.

Load More