Bola / Bola Indonesia
Kamis, 09 April 2026 | 13:56 WIB
Gelandang Wiljan Pluim menunjukkan nomor punggung yang akan ia pakai bersama klub anyarnya Borneo FC. (HO-borneofc.id)
Baca 10 detik
  • Wiljan Pluim menjelaskan alasan dirinya menolak naturalisasi menjadi WNI meski sempat didorong oleh klub dan federasi sepak bola Indonesia.
  • Pluim mengkritik adanya kebijakan pembiaran terkait polemik paspor ganda yang melibatkan sejumlah pemain keturunan di kompetisi sepak bola Belanda.
  • Kasus paspor ini memicu kekhawatiran karena ketidakjelasan aturan serta janji-janji yang diberikan kepada pemain terkait kewarganegaraan ganda di masa lalu.

Suara.com - Mantan gelandang PSM Makassar, Wiljan Pluim, akhirnya buka suara soal polemik paspor gate yang menyeret sejumlah pemain naturalisasi. Ini disampaikan sang pemain di siniar ESPN Belanda bertajuk Tekengeld.

Dalam diskusi itu, mereka mengulas kasus paspor gate yang melibatkan pemain eks Belanda yang dinaturalisasi negara lain namun masih berkarier di Negeri Kincir Angin.

Kasus ini turut menyeret beberapa nama yang kini berkaitan dengan Timnas Indonesia, seperti Dean James, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, hingga Tim Geypens, yang sempat dinonaktifkan sementara.

Dalam perbincangan tersebut, Pluim mengawali ceritanya dengan kilas balik karier panjangnya di Indonesia.

Pluim membela PSM Makassar pada 2016–2023 sebelum melanjutkan ke Borneo FC Samarinda pada 2023–2024.

Pemain PSM Makassar, Wiljan Pluim. [dok. LIB]

"Ya, itu benar. Kamu memang boleh, jika kamu sudah bermain selama lima tahun untuk klub yang sama, maka kamu otomatis berhak mendapatkan paspor," ujar Pluim.

"Pada saat itu juga sempat ada dorongan dari federasi apakah saya tidak ingin mengambil paspor tersebut, juga dari klub, karena dengan begitu kamu juga akan mengisi kuota pemain lokal, mengingat ada batasan jumlah pemain asing yang boleh dimiliki klub," kata Pluim.

Namun, keputusan besar itu tidak diambil secara gegabah. Pluim mempertimbangkan banyak aspek, terutama konsekuensi melepas paspor Belanda yang ia miliki.

"Namun, saya juga mendengar cerita dari pemain lain yang memiliki paspor itu, seperti bagaimana status paspor Belanda kamu?" imbuh Pluim.

Baca Juga: Format FIFA ASEAN Cup 2026 Dirilis, Peluang Timnas Indonesia Juara Terbuka Lebar

"Bagaimana jadinya? Karena di Indonesia kamu hanya boleh memiliki satu paspor. Jadi, pada suatu titik saya mulai memikirkan hal itu. Apa yang saya inginkan setelah karier saya? Apakah saya ingin tetap tinggal di sana atau kembali ke Belanda? Namun, itu cukup cepat menjadi jelas, juga setelah berdiskusi dengan istri saya, bahwa kami akan kembali ke Belanda."

"Jadi, saat itu saya akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya, juga karena semua yang sedang terjadi sekarang. Saya sebenarnya tidak bisa mendapatkan kejelasan dari mana pun tentang situasinya," ucapnya.

Berbeda dengan Pluim, beberapa pemain memilih jalur naturalisasi, termasuk Marc Klok yang kini memperkuat Timnas Indonesia.

Selain itu, nama-nama seperti Ezra Walian, Raphael Maitimo, Stefano Lilipaly, Irfan Bachdim, dan Diego Michiels juga telah lebih dulu mengambil langkah serupa.

"Memang ada beberapa pemain yang sudah memilikinya saat itu dan mereka selalu mengatakan, 'Ya, sebenarnya tidak boleh, tetapi agak dibiarkan saja. Selama kamu membawa identitas Belanda, kamu bisa masuk ke negara itu tanpa visa', hal-hal seperti itu," ucap Pluim.

Pesepak bola PSM Makassar Willem Jan Pluim (kedua kiri) menggiring bola yang dihadang pesepak bola Lalenok United Timor Leste Francisco Minorino Savio (kiri) dan Francisco Da Costa (kedua kanan) dalam pertandingan play off AFC Cup 2020 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Rabu (22/1/2020). PSM Makassar menang atas Lalenok United, Timor Leste dengan skor 4-1. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/foc.

"Jadi, itu tidak terasa nyaman bagi saya. Dan saya harus mengatakan bahwa saat itu juga tidak terlalu bernilai bagi saya untuk mengambil paspor Indonesia," ungkapnya.

Load More