- Kasus rasisme terjadi pada pemain Bhayangkara FC di EPA U-20 serta dialami gelandang Timnas Indonesia, Ricky Kambuaya.
- Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa tindakan rasisme tidak memiliki tempat dalam dunia sepak bola Indonesia.
- PSSI mendesak penguatan pembinaan karakter dan kampanye anti-rasisme bagi pemain muda agar tercipta lingkungan kompetisi yang positif.
Suara.com - Gelombang kasus rasisme kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengaku prihatin melihat fenomena tersebut yang kini merambah hingga level usia muda.
Dalam beberapa waktu terakhir, sorotan terhadap sepak bola nasional justru lebih banyak datang dari sisi negatif. Bukan prestasi yang menjadi pembahasan, melainkan berbagai insiden nonteknis, mulai dari kekerasan hingga rasisme.
Kasus terbaru terjadi di ajang EPA U-20. Insiden yang melibatkan Fadly Alberto saat membela Bhayangkara FC melawan Dewa United menyita perhatian publik. Aksi tendangan "kungfu" yang dilakukannya diduga dipicu perlakuan bernuansa rasis dari pemain lawan.
Tak hanya di level junior, persoalan serupa juga terjadi di level senior. Gelandang Timnas Indonesia, Ricky Kambuaya, menjadi korban serangan rasis melalui media sosial usai pertandingan Super League.
Komentar Erick Thohir
Melihat kondisi tersebut, Erick Thohir menegaskan tidak ada ruang bagi rasisme di sepak bola, baik di Indonesia maupun dunia.
"FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola, baik di kancah internasional maupun nasional," kata Erick dalam keterangannya.
"Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik," lanjutnya.
Pembinaan Karakter Harus Diperkuat
Baca Juga: Dugaan Rasisme Hantam EPA, Erick Thohir Desak Operator Liga dan Klub Bertindak Tegas
Erick mendesak seluruh elemen sepak bola nasional untuk tidak tinggal diam. Menurutnya, edukasi dan kampanye anti-rasisme harus diperkuat secara serius dan berkelanjutan, terutama di level pembinaan usia muda.
"Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni," ujarnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal tegas bahwa PSSI tidak ingin rasisme lagi dianggap sebagai isu pinggiran. Sepak bola Indonesia dituntut bukan hanya berprestasi, tetapi juga berbenah dalam nilai dan karakter.
"Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik," tutup Erick.
Berita Terkait
-
Komite Wasit Pastikan Dua Gol Dewa United ke Gawang Persib Sah
-
Tolak Rasisme di Sepak Bola Indonesia, I.League Tegaskan Komitmen Jaga Integritas Kompetisi
-
Nasib Fadly Alberto: Antara Ancaman Sanksi Berat dan Mimpi Lanjutkan Karier
-
Tendangan Kungfu Fadly Alberto Hengga ke Pemain Dewa UnitedBerujung Damai
-
Solidaritas Pemain Timnas Indonesia Mengalir Usai Ricky Kambuaya Jadi Korban Penghinaan Rasial
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Film Istimewa Hadirkan Anak Disabilitas sebagai Tokoh Utama
-
Riset Economist Enterprise: Integrasi Self-Care ke Sistem Kesehatan Perlu Diperkuat
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?