-
Belanda berada di Grup F Piala Dunia 2026 bersama Jepang, Swedia, dan Tunisia.
-
Tunisia menjadi ancaman terbesar karena lolos ke putaran final tanpa pernah kebobolan gol.
-
Juara dan runner-up Grup F akan langsung berhadapan dengan perwakilan dari Grup C.
Suara.com - Timnas Belanda harus melupakan jalur mudah kualifikasi setelah dipastikan masuk ke dalam lingkaran maut Grup F Piala Dunia 2026. Skuad asuhan Ronald Koeman langsung berhadapan dengan tiga kekuatan sepak bola yang memiliki catatan pertahanan sangat impresif.
Langkah awal De Oranje dipastikan tidak akan berjalan mulus karena format kompetisi kali ini menuntut konsentrasi tinggi sejak laga perdana. Mereka dikepung oleh Jepang yang berstatus raksasa Asia, Swedia yang tangguh di play-off, serta Tunisia sang penguasa Afrika.
Diulas dari FIFA, peta persaingan di grup ini menjadi potret nyata bagaimana tim-tim non-unggulan siap meruntuhkan dominasi Eropa. Kedalaman strategi dari setiap pelatih akan diuji secara radikal dalam perebutan tiket menuju babak 32 besar.
Belanda datang dengan modal mentereng setelah menyapu bersih kualifikasi tanpa satu pun kekalahan di zona UEFA. Statistik mencatat Memphis Depay dan kolega berhasil menyarangkan 27 gol dan hanya kebobolan empat kali sepanjang kualifikasi.
Namun, rekam jejak tersebut tidak membuat nyali para pesaing mereka di Grup F menjadi ciut. Jepang justru mengintai sebagai ancaman terbesar setelah menjadi negara pertama di luar tuan rumah yang menyegel tiket putaran final.
Timnas Tunisia membawa modal yang jauh lebih mengerikan dari aspek pertahanan selama fase kualifikasi zona CAF. Negara asal Afrika Utara ini melenggang ke putaran final tanpa membiarkan gawang mereka kebobolan satu gol pun.
Ketangguhan lini belakang Tunisia di bawah arahan Sabri Lamouchi diprediksi akan menjadi momok menakutkan bagi lini serang Belanda. Ujian kreativitas tingkat tinggi harus dipecahkan oleh Koeman jika tidak ingin frustrasi di awal turnamen.
Sementara itu, Swedia melengkapi peta persaingan setelah melewati perjuangan hidup mati yang sangat dramatis. Tim asuhan Graham Potter tersebut bangkit dari keterpurukan fase grup dengan menumbangkan Ukraina dan Polandia di babak play-off.
Karakter pantang menyerah yang dimiliki Swedia membuat persaingan Grup F menjadi salah satu yang paling sulit diprediksi. Ketiga tim penantang ini memiliki argumen taktis yang kuat untuk menjatuhkan Belanda dari takhta juara grup.
Baca Juga: John Herdman Ubah DNA Timnas Indonesia, Garuda Tak Lagi Butuh Striker Murni
Pertarungan di fase grup ini juga akan melahirkan berbagai catatan sejarah baru bagi para aktor di lapangan. Salah satu sorotan utama tertuju pada bek veteran tim samurai biru yang siap mengukir tinta emas.
Jika diturunkan bermain oleh Hajime Moriyasu, Yuto Nagatomo yang kini berusia 39 tahun akan sejajar dengan legenda sepak bola dunia. Ia bakal masuk ke dalam kelompok elite pemain yang mampu tampil di lima edisi Piala Dunia berbeda.
Di sisi lain, Tunisia juga menyimpan motivasi historis yang sangat kuat dalam keikutsertaan mereka kali ini. Negara ini memegang rekor sebagai tim Afrika pertama yang memenangkan laga Piala Dunia saat menekuk Meksiko 3-1 pada 1978.
Motivasi memutus kutukan sejarah juga diusung penuh oleh armada Belanda yang sudah jengah dengan status spesialis tempat kedua. Mereka memegang rekor sebagai tim yang paling sering melaju ke partai final tanpa pernah sekalipun mengangkat trofi.
Skenario babak gugur sendiri sudah dipetakan secara ketat oleh FIFA untuk tim-tim yang berhasil lolos dari grup ini. Juara Grup F nantinya akan terbang ke Monterrey untuk menantang posisi kedua dari Grup C.
Bagi tim yang mengakhiri fase grup sebagai runner-up, mereka sudah ditunggu oleh jawara Grup C di Houston. Jalur alternatif melalui peringkat ketiga terbaik juga tersedia untuk menghadapi para juara grup lain di kota-kota besar Amerika Utara.
Piala Dunia 2026 menjadi panggung pembuktian bagi Belanda yang pernah gagal di final edisi 1974, 1978, dan 2010. Target juara menjadi harga mati bagi generasi baru sepak bola Negeri Kincir Angin tahun ini.
Persaingan ketat ini tidak lepas dari performa impresif para pesaing yang memiliki tradisi kuat di turnamen mayor. Jepang tercatat sudah delapan kali beruntun lolos, sementara Swedia merupakan runner-up Piala Dunia edisi klasik 1958.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
-
Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur dari Menag: Isu Bursa Caketum PBNU Itu Spekulasi Liar
-
Menag Nasaruddin Umar Bantah Mundur: Itu Ada Orang yang Panik
-
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
-
Dari Pengumpul Data Hingga Perantara, Bagaimana DSI Bekerja
Terkini
-
Ada Jejak Indonesia di Gua Australia, Dua Lukisan Kapal Jadi Kunci Misteri Ratusan Tahun
-
Mengerikan! Rekaman Banjir Bandang di Himalaya Tewaskan 98 Orang, Lebih dari 400 Hilang
-
Tim Alfa TNI Sudah Terjun ke Way Kambas, Apakah Juga Dikerahkan ke Karhutla Sumsel?
-
Bisnis Tiba-Tiba Viral? Ini Tantangan yang Menunggu di Balik Lonjakan Pesanan
-
Saya Kurang Tidur! 3 Kata Pelatih Thailand Usai Gagal Juara Piala AFF 2026
-
Wali Murid SDIP Pamulang Murka, Sebut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Tak Cerminkan Sosok Pendidik
-
PLN ULP Ampera Jadwalkan Pemadaman Listrik 3 Jam, Cek Wilayah Terdampak
-
Muktamar NU ke-35 Memanas, 6 Kritik Tajam dari Halaqah Ulama Jombang untuk Kepemimpinan PBNU
-
Drama! Vietnam Juara Piala AFF 2026 Meski Pemain Thailand Cetak 4 Gol
-
PTBA Borong Empat Penghargaan ISEA 2026, Tegaskan Transformasi Keselamatan Kerja