Bola / Bola Dunia
Kamis, 11 Juni 2026 | 13:33 WIB
Timnas Irak (Antara)
Baca 10 detik
  • Timnas Irak resmi mengakhiri penantian 40 tahun untuk kembali berlaga di ajang Piala Dunia 2026.

  • Amir Al Ammari menegaskan skuad Irak membawa mentalitas pejuang yang teruji dari kualifikasi panjang.

  • Berada di Grup I, Irak siap memberikan perlawanan sengit melawan Norwegia, Prancis, dan Senegal.

Faktor sosiologis masyarakat Irak yang pantang menyerah dinilai menjadi pembeda utama dalam setiap laga krusial yang mereka hadapi.

"Namun masyarakat Irak selalu mendukung dan kami selalu menemukan jalan kembali, dan itulah yang kami lakukan. Saya percaya setiap pertandingan yang kami mainkan membuat kami lebih kuat," tegasnya.

Kehadiran jajaran staf kepelatihan baru juga dianggap berhasil menyatukan visi dan membangun atmosfer kekeluargaan yang sangat erat.

"Saya bisa merasakan kelompok ini berkembang dengan staf pelatih baru dan dengan semua orang yang terlibat dalam tim, dan tujuannya jelas: lolos entah bagaimana caranya," kata Al Ammari.

Rasa bangga yang besar kini menyelimuti seluruh elemen tim yang merasa telah bertransformasi menjadi sebuah ikatan persaudaraan yang utuh.

"Saya sangat bangga dengan apa yang telah kami capai sebagai sebuah tim, sebagai sebuah kelompok, dan sebagai saudara. Ini benar-benar terasa seperti sebuah keluarga," ungkapnya.

Bagi Al Ammari, mengenakan jersi hijau khas Irak membawa tanggung jawab besar karena harapan jutaan rakyat berada di pundak mereka.

"Anda menjalani setiap pertandingan dengan banyak tekanan karena Anda tahu begitu banyak orang yang mengandalkan Anda," akunya secara jujur.

Motivasi bermain timnas Irak kini melampaui target personal, melainkan demi memberikan kebahagiaan bagi warga Irak di dalam maupun luar negeri.

Baca Juga: Prediksi Juara Piala Dunia 2026? Spanyol dan Prancis Paling Dijagokan

"Lagipula, Anda tidak hanya bermain untuk diri sendiri. Anda bermain untuk rekan satu tim Anda, Anda bermain untuk staf pelatih, Anda bermain untuk setiap orang Irak di Irak dan setiap orang Irak di luar negeri," jabar sang gelandang.

Melihat senyum dan kegembiraan para pendukung menjadi kepuasan tertinggi yang nilainya melebihi sebuah trofi kemenangan bagi Al Ammari.

"Bagi saya, melihat kegembiraan orang lain dan betapa bahagianya mereka ketika kami menang berarti lebih dari kemenangan itu sendiri," urainya.

Gairah mutlak inilah yang membuat Al Ammari selalu menikmati setiap detik penampilannya bersama tim nasional di atas lapangan hijau.

"Saya melakukan apa yang paling saya sukai, dan pada saat yang sama, saya membuat orang lain bahagia. Itulah mengapa saya benar-benar menikmati setiap kali saya mengenakan jersi Irak," tukasnya.

Irak tergabung di Grup I yang tergolong berat karena harus bersaing dengan Norwegia, Senegal, dan tim raksasa Prancis.

Namun, Al Ammari menegaskan pandangan mata dunia terhadap para pemain bintang lawan justru menjadi panggung pembuktian bagi Irak.

"Semuanya. Hanya untuk pergi ke sana dan melihat bagaimana semuanya diatur. Kami telah ke Piala Asia di Qatar, jadi kami mendapat sedikit gambaran seperti apa Piala Dunia di Qatar, tetapi saya pikir ini akan lebih besar," katanya antusias.

Berada satu grup dengan deretan pemain bintang dunia di liga-liga top Eropa menjadi tantangan yang sangat dinantikan oleh sang pemain.

"Kami berada di grup yang berisi bintang-bintang besar yang bermain di liga-liga kuat, jadi semua mata tertuju pada mereka," sebutnya membaca peta persaingan.

Laga melawan Prancis yang diperkuat Kylian Mbappe dinilai bukan sebagai ancaman, melainkan stimulus untuk mendongkrak performa tim.

"Bagi saya, itu akan menjadi tonggak sejarah lain dalam karier saya, untuk keluar dan bersaing dengan bintang-bintang terbesar di dunia," sambung Al Ammari.

Ia berkaca pada pengalaman di Piala Asia saat Irak mampu menaikkan level permainan mereka secara drastis kala berhadapan dengan Jepang.

"Ya, tentu saja. Saya pikir semua orang menaikkan level mereka ketika mereka bermain melawan yang terbaik," komentarnya mengenai motivasi bertanding.

Baginya, kunci menghadapi tim bertabur bintang adalah menikmati pertandingan tanpa perlu membebani diri sendiri dengan ekspektasi berlebih.

"Kami telah melewati itu bersama Jepang. Mereka juga memiliki pemain kelas dunia dan ketika kami bermain melawan mereka di Piala Asia, semua orang meningkatkan level mereka dengan persentase yang besar," kenangnya.

Al Ammari mengingatkan rekan-rekannya bahwa di atas lapangan, status kebintangan luntur karena sepak bola tetaplah pertarungan sebelas lawan sebelas.

"Jadi saya pikir ini semua tentang pergi ke sana dan menikmati momen tersebut. Anda tidak boleh menaruh terlalu banyak tekanan pada diri sendiri, Anda hanya harus menikmati momen dan berada di momen itu," saran Al Ammari.

Prinsip kesetaraan di lapangan hijau ini yang membuat Irak siap memberikan perlawanan fisik dan taktik yang menyulitkan bagi lawan-lawannya.

"Pada akhirnya, mereka juga manusia, dan ini 11 melawan 11. Jadi ketika kami melangkah ke lapangan melawan bintang-bintang terbesar, saya akan menikmati momen itu, tetapi saya juga akan memberikan perlawanan," serunya dengan berani.

Dengan format baru yang meloloskan hingga tiga tim dari setiap grup, peluang Irak untuk melaju ke babak gugur dinilai terbuka sangat lebar.

"Tentu saja. Saya pikir kami harus masuk dengan mentalitas menjalani pertandingan demi pertandingan," jawabnya optimistis mengenai peluang lolos.

Fokus penuh pada strategi permainan selama 90 menit menjadi kunci utama ketimbang memikirkan besarnya skala turnamen yang bisa merusak konsentrasi.

"Kami tidak boleh fokus pada semua yang terjadi di sekitar kami atau seberapa besar semuanya. Ini adalah pertandingan, ini 90 menit dan seperti yang saya katakan sebelumnya, ini 11 melawan 11," tuturnya.

Terlepas dari hasil akhir nanti, kebersamaan dan perjuangan Irak di panggung dunia sudah menjadi catatan sejarah yang patut diapresiasi tinggi.

"Jadi bagi saya, ini tentang masuk ke sana dan menjalani pertandingan demi pertandingan, dan melihat seberapa jauh hal itu akan membawa kami. Namun kami harus bangga hanya dengan melangkah ke lapangan itu," pungkasnya.

Piala Dunia 2026 menjadi penanda kembalinya Irak ke panggung tertinggi sepak bola dunia setelah terakhir kali berpartisipasi pada edisi 1986 di Meksiko. Perjalanan menuju putaran final kali ini tercatat sebagai kampanye kualifikasi terpanjang di antara 48 negara peserta, akibat dinamika internal tim dan restrukturisasi kompetisi.

Berdasarkan jadwal resmi, perjuangan Singa Mesopotamia di Group I akan dimulai pada 16 Juni di Boston melawan Norwegia yang dimotori Erling Haaland. Selanjutnya, Irak akan menantang Prancis di Philadelphia pada 22 Juni, sebelum menutup fase grup dengan menghadapi kekuatan Afrika, Senegal, di Toronto pada 26 Juni.

Load More