Bola / Bola Dunia
Kamis, 11 Juni 2026 | 13:33 WIB
Timnas Irak (Antara)
Baca 10 detik
  • Timnas Irak resmi mengakhiri penantian 40 tahun untuk kembali berlaga di ajang Piala Dunia 2026.

  • Amir Al Ammari menegaskan skuad Irak membawa mentalitas pejuang yang teruji dari kualifikasi panjang.

  • Berada di Grup I, Irak siap memberikan perlawanan sengit melawan Norwegia, Prancis, dan Senegal.

Suara.com - Gelandang andalan Timnas Irak, Amir Al Ammari, menegaskan bahwa keikutsertaan negaranya di Piala Dunia 2026 bukan sekadar pelengkap turnamen.

Tim berjuluk Singa Mesopotamia ini membawa misi besar untuk menunjukkan ketangguhan mental sebuah bangsa yang bangkit dari berbagai ujian.

Keberhasilan lolos ke Amerika Utara menjadi momen emosional yang memutus dahaga panjang publik sepak bola Irak selama empat dekade.

Pemain Irak, Amir Al Ammari akui paham kekuatan Timnas Indonesia usai dibantu Thailand. (IG/@amiralammarii)

Langkah ini diraih setelah melewati perjuangan berat selama dua tahun dengan total 21 pertandingan kualifikasi yang melelahkan.

Perjalanan panjang tersebut justru dinilai menjadi penempa terbaik bagi karakter dan kesolidan internal skuad Irak saat ini.

Al Ammari mengungkapkan bahwa kerja keras selama bertahun-tahun kini terbayar lunas dengan tiket putaran final di tangan.

"Artinya segalanya. Saya telah bekerja sangat keras selama bertahun-tahun untuk mencapai ini," ujar pemain berusia 28 tahun tersebut dala wawancara bersama FIFA.

Kylian Mbappe sampaikan pesan ke Xabi Alonso yang tinggalkan Real Madrid. (Instagram/@k.mbappe)

Ia mengaku masih tidak percaya bahwa mimpi masa kecilnya menonton Piala Dunia di televisi kini menjadi kenyataan.

"Tentu saja, ketika Anda seorang anak kecil yang duduk di depan TV, Anda memimpikan hal ini, dan sekarang saya di sini, tahu bahwa saya akan bermain di Piala Dunia," tambahnya.

Baca Juga: Prediksi Juara Piala Dunia 2026? Spanyol dan Prancis Paling Dijagokan

Gelandang yang kini merumput di Liga Polandia bersama Cracovia itu merasakan gejolak emosi yang luar biasa menjelang turnamen dimulai.

"Saat ini, saya tidak percaya. Perasaan saya campur aduk. Saya hanya perlu meresapi semuanya dan saya mungkin akan menyadarinya ketika saya kembali ke rumah," tutur Al Ammari.

Proses kualifikasi yang penuh dinamika, termasuk kekalahan mengejutkan dari Palestina, dinilai justru memperkuat ikatan antar-pemain.

"Ya, tentu saja. Saya pikir kami memulai kualifikasi pada tahun 2023, dan ada banyak pasang surut," jelasnya mengenai dinamika tim.

Meskipun sempat limbung, dukungan masif dari masyarakat Irak menjadi bahan bakar utama yang membangkitkan motivasi mereka untuk bangkit.

"Kami memiliki putaran kedua yang hebat, tidak terkalahkan. Kemudian ketika kami mengalami beberapa kekalahan telak, terutama yang melawan Palestina, rasanya seperti tidak berjalan sesuai keinginan kami," kenang Al Ammari.

Load More