/
Senin, 26 September 2022 | 13:40 WIB
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat mencoba alat musik Tutuhao di Nias, Sumatera Utara. (Foto: Istimewa)

Deli.Suara.com – Dalam kunjungannya ke Nias, Sumatera Utara, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menerima aspirasi dari anggota Pengurus Cabang (Pengcab) Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Kabupaten Nias Selatan di Hotel Kaliki, Kota Gunungsitoli. 

Salah satu aspirasinya adalah meminta pemerintah dan perusahaan penerbangan untuk membuka kembali rute penerbangan direct atau langsung menuju Kepulauan Nias, Sumatera Utara.

Ganjar mengatakan, potensi pariwisata dan ekonomi Kepulauan Nias harus dioptimalkan, salah satunya dengan membuka kembali rute penerbangan direct agar akses wisatawan yang ingin datang ke Nias semakin mudah.

“Wisatanya bagus, keindahannya bagus kayanya problemnya sama kaya yang lain di daerah remote area yaitu penerbangan yang tidak bisa intens, rutin gitu ya. Dulu ada direct dari Jakarta tapi hari ini tidak ada lagi. Maka ini jadi aspirasi mereka,” tutur Ganjar, Senin (26/9/2022).

Sebagai Ketua Umum KAGAMA, Ganjar berjanji akan menyampaikan aspirasi itu ke sejumlah menteri dan perusahaan penerbangan.

Namun, Ganjar juga menjelaskan, untuk merealisasikan rencana tersebut, maka jadwal penerbangan dari dan menuju Kepulauan Nias harus dihitung dengan betul baik dari pemerintah daerahnya maupun dinas pariwisata untuk meyakinkan perusahaan penerbangan.

“Sebagai Ketua Umum KAGAMA saya juga bisa komunikasi dengan beberapa menteri dan perusahaan penerbangan agar ada lagi penerbangan direct yang ke sini,” ujar Ganjar.

“Tinggal dihitung saja apakah seminggu dua sampai tiga kali, syukur-syukur setiap hari. Kalau memang marketnya bagus, dugaan saya akan bisa meningkatkan kembali wisata yang ada di sini,” tambahnya.

Selain itu, Ganjar juga mendorong Pengcab KAGAMA Nias untuk lebih sering berjejaring dan bekerjasama dengan pemerintah daerah dan pihak kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menyampaikan program kerja di daerahnya.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Menguat Tipis, Tekanan Nilai Tukar Dolar Mulai Terasa

“Sehingga diharapkan kawan-kawan KAGAMA di Nias bisa duduk bareng dan membantu berjejaring dengan KAGAMA Pusat dan UGM,” terang Ganjar.

Selain menerima aspirasi, Ganjar Pranowo juga menerima hadiah berupa alat musik Tutuhao dan sebuah buku yang mengulas tentang Pulau Nias.

Saat mengunjungi Museum Ganjar menyempatkan diri memainkan Tutuhao atau alat musik khas Nias yang terbuat dari bambu.

Setelah 20 menit mempelajari sejarah Nias, Ganjar diberi hadiah alat musik Tutuhao dan buku yang diserahkan langsung oleh Direktur Museum Nias, Nata’alui Duha.

“Iya alat musik yang sangat menarik dan ternyata entah kenapa mereka membuat karya yang cukup bagus ini, Tutuhao. Jadi, alat musik pukul menghasilkan tiga suara ternyata. Ada suara gong, gendang dan canang dan ternyata ini dari bambu,” papar Ganjar.

Menurut Ganjar, adanya Tutuhao menjadi penanda bahwa nenek moyang, terutama di Pulau Nias memiliki sains of art yang tinggi di bidang musik.

“Rupanya nenek moyang kita, khususnya yang di Nias ini punya sains of art yang sangat tinggi terutama dalam seni musik ya,” katanya.

Selain alat musik Tutuhao, Ganjar juga mendapat buku tentang sejarah masyarakat Nias.

“Dan ada satu buku lagi tentang asal usul masyarakat Nias. Yang menulis seorang Pastur dan sekaligus pendiri museum, ternyata bisa menceritakan banyak hal tentang Nias,” tandasnya. 

Sumber: Suara.com 

Load More