/
Sabtu, 10 September 2022 | 21:36 WIB
Bharada E (kiri) dan Ferdy Sambo (tengah) saat rekonstruksi pembunuhan Brigadir Joshua. Keterangan keduanya berbeda sehingga dilakukan uji kebohongan. (Youtube Polri TV)

Suara Denpasar – Banyak masyarakat menunggu-nunggu apa hasil tes lie detector Ferdy Sambo yang sudah dilakukan Kamis (8/9/2022). Bahkan sudah ada hasilnya. Namun, kenapa hasilnya sampai saat ini tidak diungkap ke publik, apa karena hasil lie detector Ferdy Sambo ternyata berbohong?

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo pun menjawab soal ketidaktransparan pihak kepolisian terkait hasil lie detector yang dilakukan di Puslabfor Bareskrim Polri di Sentul, Kabupaten Bogor itu.

"Hasil uji lie detector/polygraph pro justitia (penegakan hukum) untuk penyidik," jelas Dedi.

Dedi hanya menjelaskan, informasi dari Puslabfor bahwa Ferdy Sammbo sudah menyelesaikan uji kebohongan Kamis lalu, dan selesai pada malah hari, sekitar Pukul 19.00 WIB.

“Pemeriksaan (Ferdy Sambo) sampai pukul 19.00 WIB. Hasilnya apakah sudah selesai? Itu domainnya Laboratorium Forensik dan penyidik," jelasnya.

Lantas bagaimana dengan hasil lie detector atas tersangka atau saksi lain, seperti istri Ferdy Sambo yakni Putri Candrawathi dan asisten rumah tangga bernama Susi, Dedi juga tidak mengungkap. Diketahui Putri dan Susi sudah lebih dulu diperiksa menggunakan poligraf pada Selasa (6/9/2022).

Direktur Tindak Pidana Umum Brigjen Andi Rian Djajadi juga menyampaikan alasan kenapa hasil lie detector Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, dan Susi tidak diungkap ke publik. Selain karena hasilnya menjadi kewenangan penyidik, dia memiliki kekhawatiran bila hasil uji kebohongan ketiga diungkap maka akan muncul opini atau analisis liar dari masyarakat.

"Saya melihat justru analisis liar dari media dan pengamat yang tidak paham teknis pascapelaksaaan uji poligraf,” jelas Andi Rian Djajadi melalui pesna singkat ketika dikonfirmasi Antara.

Dia pun memastikan hasil uji kebohongan Ferdy, Putri, dan Susi tidak akan diungkap ke publik saat ini. Katanya, seluruh fakta yang didapat penyidik akan dibuka di persidangan.

Baca Juga: Demo BBM Naik di Bali, Dorong Motor dengan Poster: Motore Mogok, Ulian Sing Ade Pis Anggon Meli Bensin

Tidak diumumkannya hasil uji kebohongan atas Ferdy Sambo, Putri Candrawathi dan Susi justru menimbulkan banyak tanda tanya. Apalagi, Andi Rian Djajadi sebelumnya malah membuka hasil pemeriksaan lie detector terhadap tersangka lain. Yakni Bharada Richard Eliezer (Bharada E atau RE), Bripka Ricky Rizal (Bripka RR), dan Kuat Ma’ruf (KM) yang mengikuti pemeriksan lie detector pada Senin (5/9/2022).

Saat itu, Andi Rian Djajadi yang sesama alumni SMAN 1 Makassar dan sesama asal Sulawesi Selatan dengan Ferdy Sambo, ini mengaku hasil pemeriksaan kepada ketiganya jujur.

“Barusan saya dapat hasil sementara uji polygraph terhadap RE, RR dan KM, hasilnya ‘no deception indicated’ (tidak terdeteksi penipuan, red) alias jujur,” jelas Andi Rian Djajadi, Selasa (6/9/2022).

Pengacara Bharada E, Ronny Talapessy ketika dikonfirmasi terpisah mengatakan, terkait pemeriksaan dengan poligraf atau lie detector ada salah satu pertanyaan yang penting yakni soal siapa yang menemba Brigadir Joshua.

“Salah satu poin krusial adalah siapa saja yang menembak (Brigadir) J. Klien saya (Bharada E)) menjawab ‘Saya pertama dan FS yang menembak terakhir’,” kata Ronny Talapessy, Sabtu (10/9/2022). Atas jawaban itu, Bharada E pun dianggap jujur alias tidak berbohong.

Bagaimana Cara Kerja Poligraf atau Lie Detector

Sebelumnya melalui tayangan di Youtube Polri TV dijelaskan, poligraf atau lie detector merupakan alat untuk menguji kejujuran seseorang yang ditandai melalui reaksi tubuh. Yakni psycho physiological decepticon detection alias pendeteksi kebohongan seseorang melalui gejala psikis yang membangkitkan bentuk reaksi fisiologis atau reaksi tubuh.

Tim Asosiasi Poligraf Indonesia, Agung Prasetya kemudian menuturkan bahwa reaksi tubuh manusia bisa dalam berbagai macam bentuk. Bisa melalui jantung, napas, dan kelenjar keringat, asam lambung, pupil mata dan otak.  Reaksinya bisa jantung berdebar kencang, napas berat, keluar keringat, asam lambung naik, pupil membesar, dan ketegangan di area otak.

Walau begitu, teknik poligraf yang digunakan Puslabfor Bareskrim Polri hanya membatasi pada tiga hal: sensor jantung, kelenjar keringat di ujung jari, dan pernapasan dada dan perut.

Dia pun mengatakan, poligraf milik Puslabfor Bareskrim Polri merupakan buatan Kanada dan telah diakui Asosiasi Poligraf Amerika Serikat.

“Ini memiliki tingkat akurasi 93 persen. Dan telah memiliki standar ISO,” kata Agung Prasetya.
Dia pun menjelaskan bagaimana tahapan pemakaian lie detector atau polygraph ini. Berikut tahapannya:

Tahap pertama: pemeriksa akan mewawancarai terperiksa untuk memastikan subjek secara jasmani dan rohani, membangun hubungan untuk menyamakan bahasa dan empati, mengetahui latar belakang sosial terperiksa, menjelaskan prinsip kerja alat.

Lebih lanjut, pemeriksa mempelajari terperiksa dan bahasa tubuh terperiksa, menyamakan kedudukan kasus, dan mempersiapkan pertanyaan dalam tes,

Tahan Kedua: pemeriksa akan menanyakan kesediaan terperiksa untuk dipasangi alat poligraf sebelum pemeriksaan poligraf dimulai.

Tahap Ketiga: Pemeriksan bisa berlangsung dalam 3-6 jam. Hasil dari poligraf berupa grafik akan dituangan ke dalam form dan dilakukan analisis. Hasil uji kebohongan ini dijadikan sebagai pendapat ahli yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) untuk dibawa ke persidangan.

“Ini lah salah satu metode scientific crime investigation yang dilakukan Polri untuk mengusut kasus penembakan Birgadir J secara transparan dan profesional,” kata Agung Prasetya. (*)

Load More