/
Sabtu, 22 April 2023 | 09:00 WIB
Gencatan Senjata Gagal, Perang Sudan Kian Berkobar (BBC)

Suara Denpasar - Upaya gencatan senjata antara tentara Sudan dan Paramiliter (RSF), gagal dilaksanakan. Beberapa saksi mata mengatakan, bahwa pertempuran antara keduanya, kian berkobar. 

Sebelumnya, tentara Sudan dan Paramiliter menyepakati gencatan senjata selama 24 jam, terhitung sejak hari Rabu (19/4/2023).

Gencatan senjata yang ditengahi oleh negara-negara yang berusaha mengevakuasi warganya, seharusnya mulai berlaku pada pukul 6 sore, Rabu, (19/4/2023). 

Kini, sejumlah pihak khawatir dengan menipisnya kebutuhan pokok. Warga kehabisan makanan dan bahan bakar. Selain itu, sistem perawatan kesehatan di Sudan juga terancam. 

“Kami sangat membutuhkan jeda kemanusiaan, agar warga sipil yang terluka dan sakit, dapat diobati di rumah sakit,” kata Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, dilansir dari Xinhua, Jumat, (21/4/2023). 

"Orang-orang di Khartoum [Ibu Kota Sudan] kesulitan membeli makanan, mereka terancam, dan kebutuhan pokok lainnya sulit pula didapat," katanya lagi. 

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dikabarkan telah menghadiri pertemuan virtual di Sudan pada hari Kamis, (20/4/2023). 

"Ia berupaya mengamankan gencatan senjata 24 jam antara pihak yang bertikai di Sudan," kata Stephane Dujarric, juru bicara Antonio Guterres.

Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul-Gheit, juga meminta pihak-pihak yang bertikai di Sudan untuk menghentikan peperangan menjelang Idul Fitri. 

Baca Juga: Haykal Alhafiz Berlabuh Ke PSIS Semarang, Mahesa Jenar Incar Aset Persebaya Lainnya?

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, turut angkat bicara. Ia mengatakan pada hari Rabu (19/4/2023), bahwa pihaknya sedang mengadakan pembicaraan di Sudan. Hal ini ditujukan untuk mendamaikan kedua pihak yang bertikai di Sudan. 

"Kami sedang bernegosiasi dengan kedua belah pihak. Kami sedang bernegosiasi untuk menghentikan konflik," katanya kepada wartawan.

Sementara Presiden Kenya, William Ruto, mendesak masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya untuk mengakhiri kerusuhan di Sudan.

Untuk diketahui bahwa perang saudara di Sudan kini telah memasuki hari kelima. Ia mencatat bahwa ada bahaya nyata mengenai eskalasi permusuhan di Sudan. 

Hal tersebut, memungkinkan untuk terjadinya krisis keamanan dan kemanusiaan dalam skala yang mengerikan. 

Sebagai tambahan informasi, bahwa perang saudara antara tentara Sudan dan paramiliter RSF awalnya pecah pada hari Sabtu lalu. 

Peristiwa ini memaksa warga sipil melarikan diri, dan mencari tempat yang aman. Akibat dari perang saudara di Sudan, tercatat ratusan orang tewas, dan ribuan lainnya luka-luka. (Rizal/*)
 


 

Load More