Entertainment / Gosip
Rabu, 22 April 2026 | 20:40 WIB
Korban pelecehan Syekh Ahmad Al Misry trauma berat. [Instagram]
Baca 10 detik
  • Korban mengalami guncangan batin hebat hingga kehilangan kepercayaan kepada tokoh agama dan histeris saat ditemui.
  • Akibat pelecehan tersebut, salah satu korban mengaku sempat terpikir untuk murtad karena rasa kecewa yang mendalam.
  • Pelaku diduga melecehkan korban dengan berbagai dalih, mulai dari iming-iming beasiswa hingga modus "cek fisik" kesehatan.

Suara.com - Kasus dugaan pelecehan seksual sesama jenis yang menyeret nama pendakwah Syekh Ahmad Al Misry alias SAM menyisakan luka psikologis mendalam bagi korbannya.

Kebejatan bermodus iming-iming beasiswa hafiz Alquran ke Mesir itu membuat para korban yang mayoritas santri laki-laki di bawah umur mengalami trauma berat, bahkan nyaris keluar dari agama Islam alias murtad

Fakta memilukan ini diungkapkan oleh pelapor utama kasus tersebut, Habib Mahdi Alatas, dalam konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Rabu, 22 April 2026.

Mahdi menuturkan betapa sulitnya mendekati para korban yang mentalnya sudah terlanjur hancur akibat dilecehkan oleh sosok pemuka agama.

Saat menemui salah satu korban di Purbalingga, Mahdi mengaku langsung mendapat penolakan keras. Reputasi tokoh agama di mata korban telah hancur lebur.

"Dia bilang, 'Anda Ustaz? Saya nggak respek sama Anda. Udah nggak usah ngebahas masalah apa pun'. Itu kita ngeyakinin bukan satu dua jam, lima jam saya yakinin sampai tengah malam baru dia mau bercerita," kata Mahdi Alatas kepada awak media.

Kondisi yang lebih miris terjadi pada korban di wilayah Bogor. Mahdi menceritakan bahwa korban tersebut berteriak histeris saat pertama kali ditemui.

Tindakan asusila berkedok "cek fisik" dan pelecehan yang dialaminya memicu guncangan batin yang luar biasa.

Baca Juga: Bongkar Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry, Pelapor Ngaku Diintimidasi Jenderal

"Dia histeris ngelihat saya. Bahkan dia bilang, 'Saya tuh sudah nggak percaya sama Ustaz. Bahkan saya tuh sudah berpikir untuk murtad!'" beber pengasuh pondok pesantren tersebut menirukan jeritan sang korban.

Konferensi pers Mahdi Alatas, pelapor Syekh Ahmad Al Misri di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu, 22 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana].

Bukan cuma santri di bawah umur, korban dewasa pun tak luput dari manipulasi dan trauma. Mahdi membeberkan kisah seorang korban berusia 24 tahun yang datang menangis memeluk pelaku untuk meminta restu menikah.

Alih-alih diberi wejangan moral, korban justru dibawa ke kamar dan alat vitalnya dilecehkan dengan dalih pemeriksaan agar tidak menzalimi sang calon istri.

Melihat hancurnya mental dan masa depan para santri tersebut, Mahdi menegaskan komitmennya untuk tak mundur selangkah pun dalam mengawal proses hukum, meskipun harus berhadapan dengan nama besar terlapor.

"Saya tidak kenal sama si korban siapa dan sebagainya, tapi tanggung jawab moral saya sebagai manusia terhadap anak-anak bangsa, saya harus belain. Enggak mungkin si korban yang usianya 15 tahun itu menghadapi orang sehebat dia," kata Mahdi.

Load More