Foto / News
Jum'at, 16 Januari 2026 | 08:00 WIB
Ibunda dari korban Semanggi I Benardinus Realino Norma Irawan atau Wawan, Maria Katarina Sumarsih mengikuti aksi Kamisan ke-893 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/1/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa]
Sejumlah pegiat HAM yang tergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan mengikuti aksi Kamisan ke-893 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/1/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa]
Sejumlah pegiat HAM yang tergabung dalam Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan mengikuti aksi Kamisan ke-893 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/1/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa]
Ibunda dari korban Semanggi I Benardinus Realino Norma Irawan atau Wawan, Maria Katarina Sumarsih mengenakan kaos bergambar anaknya saat mengikuti aksi Kamisan ke-893 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/1/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa]
Musisi Baskara Putra berorasi saat aksi Kamisan ke-893 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/1/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa]
Personel Band Sukatani tampil saat aksi Kamisan ke-893 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/1/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa]

Suara.com - Ibunda dari korban Semanggi I Benardinus Realino Norma Irawan atau Wawan, Maria Catarina Sumarsih mengikuti aksi Kamisan ke-893 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Selama 19 tahun sudah, para peserta aksi yang identik dengan payung hitam ini konsisten berdiri di depan Istana Merdeka setiap hari Kamis untuk menuntut keadilan dan penuntasan kasus-kasus kemanusiaan masa lalu.

Aksi Kamisan ke-19 tahun ini mengusung tema Bergerak, Bersolidaritas, Merebut Kedaulatan Rakyat!. Selain pegiat HAM dan keluarga korban, dalam aksi ini hadir beberapa musisi seperti Baskara Putra, The Brandals hingga Sukatani.

Aksi yang sudah digelar sejak tahun 2007 ini sekarang menjadi ruang ingatan kolektif bagi publik untuk menolak lupa atas kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, seperti Tragedi Trisakti, Semanggi I & II, hingga pembunuhan aktivis Munir. [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa]

Load More