Suara.com - Israel sedang mengalami krisis sperma. Seperti yang dilaporkan Daily Beast, Minggu (16/3/2014), sebanyak 15 bank sperma di negara itu melaporkan jumlah stok sperma yang mereka miliki kian menipis. Bank-bank itu terancam tutup jika tidak ada pasokan mani yang datang dalam waktu dekat.
"Ini masalah besar. Kami hanya punya lima donor aktif, dua di antaranya masih diragukan," kata Dr Shahar Kol, dari klinik Rambam, fasilitas kesuburan reproduksi terbesar di dunia, dengan kapasitas 2000 pasien.
Salah satu penyebab krisis sperma di Israel adalah berkurangnya jumlah donor. Para donor sperma di Israel ketakutan jika identitas mereka diungkap, demikian kata Daphna Birenbaum-Carmeli, pakar antrologi medis pada Haitha University, di Rambam - Israel Utara.
Ketakutan itu dipicu oleh desakan kelompok garis keras Yahudi, yang terobsesi dengan kemurnian genetik bangsa Yahudi. Mereka minta agar identitas para donor sperma diungkap.
Selain itu, menurut Birenbaum-Carmeli, adanya perubahan pandangan orang terhadap pembuahan buatan juga berkontribusi dalam krisis tersebut.
"Pada era 1980an ini adalah proses yang sangat rahasia. Orang bahkan tidak tahu ada bank sperma. Ini bisa menjadi cara mudah, tetapi rahasia, bagi mahasiswa untuk mendapatkan uang," jelas dia.
"Kini teknologi reproduksi sudah muncul ke permukaan. Klinik ada di mana-mana dan orang menjadi semakin cemas," lanjut ilmuwan perempuan itu.
Tidak hanya dua faktor itu, kualitas juga membuat krisis itu kian parah. Tidak semua mani punya jumlah sel sperma yang cukup, sehingga banyak juga donor yang ditolak.
Studi terakhir menunjukkan bahwa pada 1995 hanya sepertiga stok mani yang ditolak karena kualitasnya buruk, tetapi kini jumlah mani tidak berkualitas naik hingga 90 persen.
Hal itu memaksa pemerintah Israel menurunkan standar kualitas mani, agar stok sperma di negara itu tidak habis. Tetapi bahkan dengan standar kualitas yang sudah disesuaikan, masih 40 persen donor yang ditolak. Bahkan salah satu bank sperma, yang hanya menerima sperma "premium", hanya satu persen donasi sperma yang diterima.
Tetapi memang harus diingat, bahwa angka kelahiran dengan bantuan bank sperma setiap tahunnya hanya berada di angka ratusan, jauh di bawah kelahiran dengan proses normal.
"Rata-rata klien di bank sperma Israel adalah ibu tunggal atau pasangan lesbian," kata Birenbaum-Carmeli.
Jadi apa yang terjadi jika Klinik Kesuburan Ramban dipaksa menutup bank sperma mereka?
"Setiap tahun kami menyediakan 650 sperma untuk Israel Utara. Jika kami tutup, semua pasien itu akan kehilangan peluang untuk menjadi ibu," kata Dr Kol. (Daily Beast)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal