Jum'at, 10 Oktober 2014 | 18:29 WIB
Manat Hiras Panjaitan (Foto World Lung Foundation)

Suara.com - World Lung Foundation bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meluncurkan kampanye nasional media masa anti tembakau dan memberikan ucapan selamat kepada pemerintah Indonesia atas perkembangan yang signifikan pada kebijakan kesehatan publik.

Kampanye bertema “Berhenti Menikmati Rokok Sebelum Rokok Menikmati Anda” telah dirancang untuk meningkatkan kepedulian terhadap bahaya merokok dan menampilkan testimoni pribadi yang jujur dan gamblang dari Manat Hiras Panjaitan, korban rokok.

Penayangan kampanye ini diselaraskan dengan #30HariTanpaRokok, inisiasi nasional berhenti merokok. Iklan ini ditayangkan di beberapa stasiun televisi nasional di Indonesia, YouTube dan bioskop-bioskop yang ikut berpartisipasi selama empat minggu.

Sebagian dari stasiun televisi nasional yang menayangkan iklan ini adalah ANTV, TRANS TV, Trans7, MNC TV, Metro TV, TV One dan Global TV.

Kampanye ini membantah informasi-informasi yang salah tentang bahaya merokok dengan mempertunjukkan testimoni jujur dan gamblang dari Manat Hiras Panjaitan, korban kanker tenggorokan, dan dirancang untuk memberikan pengaruh yang signifikan dan sejalan dengan kebijakan peringatan grafis (pictorial health warning - PHW) pada bungkus rokok yang telah dilaksanakan di Indonesia.

Iklan ini telah diuji terhadap target penonton usia 15 hingga 40 tahun dan berhasil menjadi insentif yang ampuh terhadap para remaja non-perokok, untuk tidak memulai merokok atau bagi para perokok untuk mencoba berhenti.

Cerita Panjaitan

Dalam testimoni yang menyentuh hati, Manat Hiras Panjaitan menjelaskan bahwa ia mulai merokok di usia muda dan berlanjut dengan merokok tiga bungkus per hari.

Panjaitan adalah seorang lelaki yang religius dan tetua komunitas yang sering diminta berbicara pada acara-acara komunitas dan bernyanyi di paduan suara gereja.

Empat tahun yang lalu, ia didiagnosa mengidap kanker pada pangkal tenggorokan dan diwajibkan untuk dioperasi untuk bertahan. Kini, dia tidak lagi dapat bernyanyi atau berbicara pada acara-acara publik, tapi ia menggunakan suaranya untuk mendukung kampanye anti tembakau.

Peter Baldini, Chief Executive, World Lung Foundation, mengatakan cerita Panjaitan akan ditayangkan di bioskop-bioskop, stasiun televisi dan YouTube – testimoni dan pengalamannya adalah yang benar, bukan skenario drama.

"Tragisnya, apa yang dialami Pak Panjaitan adalah hal yang tidak jarang terjadi. Tembakau adalah salah satu penyebab kematian dan penyakit di Indonesia. Bila kanker Pak Panjaitan tidak didiagnosa dan dirawat di tahun 2010, beliau akan menjadi satu dari beberapa ribu orang Indonesia yang meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan tembakau setiap tahunnya," katanya dalam pernyataan pers yang diterima suara com, Jumat (10/10/2014).

Kanker yang diderita Panjaitan dapat dihindari jika ia sadar tentang bahaya merokok di usia muda dan bila kebijakan tembakau disosialisasikan hingga ia dapat berhenti merokok. Kini, Panjaitan ingin membuat masyarakat Indonesia sadar dan terhindar dari penyakit yang dideritanya.

“Testimoni pribadi secara jujur dan gamblang telah terbukti berhasil membuat masyarakat mengerti tentang bahaya penggunaan tembakau, menghimbau para perokok untuk berhenti dan menyarankan para remaja untuk tidak memulai merokok. Kami berharap cerita Pak Panjaitan dapat mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Aksi segera dibutuhkan bila separuh perokok mengatakan mereka akan berhenti merokok, tapi hanya satu dari sepuluh perokok yang berani mengatakan mereka akan berhenti segera,” Baldini menjelaskan.

Penggunaan Tembakau di Indonesia 

Load More