Suara.com - Seiring dengan pertambahan usia, maka risiko seseorang mengidap berbagai penyakit degeneratif pun semakin besar. Salah satu yang harus diwaspadai adalah kanker kolon atau usus besar.
Disampaikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi Siloam Hospitals TB Simatupang, Epistel P Simatupang, kanker kolon merupakan salah satu jenis kanker yang menjadi penyebab utama kematian di dunia.
Oleh karena itu upaya deteksi dini, menurutnya, merupakan hal penting dilakukan saat memasuki usia lanjut yakni usia 50 tahun. Untuk saluran cerna, langkah deteksi dini yang bisa dilakukan adalah endoskopi.
"Terlebih bagi mereka yang mengalami muntah-muntah, BAB berdarah, atau ada riwayat keluarga yang pernah mengalami kanker kolon, sebaiknya usia 50 tahun sudah melakukan deteksi dini endoskopi pada saluran cerna," ujar dr Epistel.
Dengan melakukan endoskopi, lanjut dia, dokter dapat mendeteksi adanya kelainan dan masalah di sekitar saluran pencernaan secara visual sehingga dapat segera tertangani dengan baik.
Dr Epistel menjelaskan, saluran cerna pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian. Pertama, area kerongkongan hingga usus 12 jari dinamakan saluran cerna bagian atas. Sedangkan bagian akhir dari usus kecil hingga anus disebut dengan saluran cerna bagian bawah.
"Sehingga pengamatan menggunakan endoskopi juga terbagi dua. Untuk mengamati kelainan pada saluran cerna atas dinamakan esofago gastro duodenoskopi (EGD). Sedangkan untuk saluran cerna bagian bawah disebut dengan kolonoskopi," tambahnya.
Selain sebagai upaya deteksi dini, ia menambahkan, endoskopi juga bisa digunakan untuk penanganan gangguan saluran cerna. Salah satunya untuk mengatasi masalah tukak lambung maupun pendarahan di sekitar saluran cerna.
Dengan endoskopi, dr Epistel mengatakan bahwa penanganan menjadi lebih cepat dan tepat. Sebab, biasanya penanganan masalah tersebut dilakukan melalui pembedahan yang memakan proses pemulihan cukup lama.
Baca Juga: KPK Tetapkan Saipul Jamil Tersangka Suap
Sedangkan teknik kolonoskopi, ia menambahkan bahwa metode ini sudah menjadi hal wajib bagi masyarakat Jepang, karena kasus kejadian kanker kolon yang sangat tinggi. Bahkan, ia mengatakan, bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker kolon sebaiknya melakukan pemeriksaan kolonoskopi setiap lima tahun sekali.
“Seperti halnya EGD, kolonoskopi juga bisa sebagai penanganan. Terutama bila terjadinya polip pada saluran cerna. Ini harus segara dihilangkan mengingat polip merupakan cikal bakal terjadinya kanker kolon. Di Siloam Hospitals TB Simatupang, tindakan endoskopi berkisar antara Rp 3 juta - Rp 4 juta sedangkan kolonoskopi biasanya memakan biaya Rp 5-6 juta,” pungkas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia