Suara.com - Pihak Kepolisian Malaysia mengatakan bahwa satu dari dua perempuan yang diduga membunuh Kim Jong Nam juga merasakan dampak dari paparan racun VX yang menewaskan saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dilansir dari Reuters, gejala yang dirasakan salah seorang terduga pembunuhan tersebut adalah muntah.
Menanggapi hal ini, ahli saraf Dr.dr. Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP, mengatakan bahwa racun VX merupakan gas yang sangat mematikan dimana ketersediaannya di dunia sedikit, karena proses produksinya yang cukup sulit. Zat kimia ini, kata dia, tergolong antikolinergenik yang menyerang sel saraf.
Biasanya korban yang terpapar gas ini, menurut dr Wawan, akan mengalami kejang otot, ingusan, diikuti dengan kelumpuhan di semua otot tubuh.
"Kemudian penderita akan roboh, tak mampu bernapas, dan dapat segera meninggal karena tidak mampu bernapas akibat kelumpuhan otot pernapasan," ujarnya ketika dihubungi Suara.com, Sabtu (25/2/2017).
Lebih lanjut dr Wawan menambahkan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghambat proses mematikan racun ini. Salah satunya dengan membasuh kulit yang terkontaminasi racun dengan air mengalir sebanyak mungkin.
Namun yang harus diperhatikan adalah muara pembuangan air basuhan racun yang harus dikuburkan agar tidak mengontaminasi orang lain.
"Air tersebut harus ditampung dan dibuang terpisah atau dikuburkan nantinya, karena gas VX mempunyai konsentrasi pekat dan mudah mengumpul atau menempel dan sulit hilang pada pembuangan," tambah dia.
Tim penyelamat juga bisa memberikan obat penawar, jenis antikolin esterase yang bisa didapatkan di toko obat. Obat penawar ini biasanya terdapat di ruang operasi rumah sakit atau unit gawat darurat bernama sulfas atrofin (SA) yang biasa digunakan sebagai obat penawar pada kasus keracunan obat semprot nyamuk.
Meski demikian upaya penanganan kasus keracunan gas saraf VX harus cepat dilakukan, karena daya mematikan zat kimia ini sangat besar. Hanya dalam dosis 10-15 miligram bisa menewaskan seseorang dalam hitungan menit bahkan detik.
Baca Juga: Lama Tak Muncul Usai Pilkada, Ini Kegiatan AHY Sekarang
"Bayangkan itu seperti Anda menyemprotkan parfum ke tubuh setelah mandi, lalu beberapa detik atau menit kemudian orang yang disemprotkan parfum itu roboh dan segera menghembuskan napas terakhir. Jadi, sangat-sangat membahyakan," pungkas dr Wawan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
Terkini
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan