Suara.com - Ada begitu banyak hal yang harus diperhatikan bagi Anda yang baru saja melahirkan, salah satunya memilih makanan yang tepat untuk Anda konsumsi.
Mengapa ini sangat penting? Karena apapun yang Anda konsumsi akan memiliki dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung pada kesehatan bayi Anda, melalu ASI yang mereka konsumsi.
Beberapa makanan yang Anda makan, bisa menyebabkan alergi pada bayi yang ditransfer melalui ASI. Alergi ini dapat menyebabkan kolik atau sakit perut pada bayi dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Lantas, apa sih makanan yang bisa menyebabkan masalah kesehatan pada bayi? Kacang-kacangan disebut sebagai salah satu penyebabnya. Kacang memang kaya akan protein dan mereka sangat penting untuk ibu menyusui.
Namun, ketika seorang ibu memakan kacang, komponen yang hadir dalam kacang, mungkin tidak cocok bagi beberapa bayi, yang akan menyebabkan terbentuknya gas dalam perut mereka.
Berikut beberapa keuntungan makan kacang-kacangan bagi ibu menyusui dan kapan sebaiknya Anda tidak mengonsumsi makanan ini seperti dilansir dari Boldsky.
1. Membantu meningkatkan produksi ASI
Kacang kaya akan protein dan ini akan memberikan Anda energi dan nutrisi yang cukup. Tingginya kandungan protein sangat efektif dalam meningkatkan produksi ASI.
Untuk meningkatkan produksi ASI, para ahli sering merekomendasikan asupan kacang pada ibu menyusui. Misalnya saja kacang merah, kacang hitam, kacang polong, atau kacang tanah.
2. Kacang sangat bergizi
Terlepas dari pasokan protein yang tinggi, kacang mengandung jumlah zat besi dan seng yang baik. Tingginya kadar kalium, folat dan serat membuatnya menjadi pilihan yang baik untuk Anda yang sedang menyusui.
Baca Juga: Diisukan akan Cerai, Istri Aming Ziarah ke Makam Anak
3. Mendukung penurunan berat badan
Setelah kehamilan, Anda mungkin akan mencoba untuk mengurangi berat badan. Ketahuilah bahwa kacang dapat mendukung tujuan penurunan berat badan Anda. Karena makanan ini tinggi protein, tubuh Anda bisa tetap waspada dan aktif untuk jangka waktu yang lama. Kandungan serat dalam kacang juga akan membantu mengurangi asupan makanan tambahan Anda karema bisa membuat Anda merasa kenyang.
Kapan sebaiknya berhenti mengonsumsi kacang-kacangan? Anda bisa berhenti, jika mengetahui bayi Anda mengalami masalah kolik setelah Anda mengonsumsi kacang-kacangan.
Lebih baik menghindari atau mengurangi asupan kacang. Lihat, jika bayi Anda menangis setelah disusui, berarti ada yang salah dengan makanan yang Anda makan sebelumnya.
Selain itu, sebaiknya juga menghindari kacang-kacangan, jika Anda memiliki risiko kadar asam urat yang tinggi dalam tubuh.
Bagaimana mengurangi kolik karena kacang
Anda dapat mengonsumsi kacang dengan mencoba beberapa tips untuk mengurangi masalah kolik pada bayi Anda. Masak, tumbuk atau rebus kacang dalam air sebelum memakannya.
Ini akan mengurangi pembentukan gas. Perendaman kacang dalam air dan mengganti airnya dua sampai tiga kali sebelum memasak, juga dikenal sangat membantu. Untuk mencegah kolik pada bayi Anda karena kacang, tambahkan beberapa rempah saat memakannya juga sangat efektif, seperti adas, lemon atau jintan. Mudah kan cara mengatasinya? Selamat mencoba!
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak