Suara.com - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati posisi dua tertinggi dengan jumlah kasus bayi lahir pendek atau stunting.
Menurut Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, bayi lahir pendek salah satunya dipicu oleh kurangnya asupan gizi yang diterima sang ibu saat hamil.
Selain lahir pendek, bayi-bayi yang lahir dari ibu hamil yang tidak tercukupi kebutuhan gizinya akan memiliki bobot rendah dan berisiko tinggi meninggal dalam usia yang sangat dini.
Itulah sebabnya Menkes mengimbau agar para ibu bertanggung jawab atas kehamilan yang dialaminya.
"Kalau mau hamil itu harus betul-betul diinginkan atau tanggung jawab. Jangan diet-dietan karena nggak mau kelihatan gendut. Hamil, perut menjadi buncit nggak papa yang penting anak dalam kandungan cukup gizi," ujar Menkes saat memberikan Kuliah Umum di Politeknik Kesehatan Kupang, NTT, Selasa (2/5/2017).
Bayi yang lahir pendek, tambah Menkes, tak hanya mempengaruhi dari segi penampilan. Kecerdasan anak pun ikut dipertaruhkan, dimana hal ini dapat mempengaruhi generasi bangsa di masa mendatang.
"Anak-anak yang stunting bukan cuma tubuhnya yang pendek tapi otaknya juga ikut pendek. Dalam artian IQ tidak mencapai normal dan akan menjadi beban bagi bangsa, bukan aset bangsa," tambahnya.
Menkes mengakui, ada faktor lain yang memicu peningkatan jumlah kasus gizi buruk di Nusa Tenggara Timur yakni pengaruh budaya.
Dia mengatakan, di perbatasan Atambua jangkauan pemberian ASI hanya 25 persen yang disebabkan adanya pemisahan antara ibu dan anak setelah persalinan.
Baca Juga: Ini Tiga Masalah Kesehatan yang Dihadapi NTT
"Untuk itu kami dorong masyarakat sehat melalui pendekatan keluarga. Kami sadar daerah terpencil masih dipengaruhi budaya setempat, dengan adanya pendekatan keluarga sehat, penguatan ada di puskesmas," lanjut Menkes.
Menkes pun menjanjikan pembangunan enam puskesmas baru di NTT dengan fasilitas yang mumpuni agar dapat menyelesaikan berbagai masalah kesehatan.
Dengan Puskesmas ini, dia berharap masyarakat tak lagi malas mengobati penyakitnya yang sebelumnya dipicu oleh akses yang sulit dan tenaga kesehatan yang minim.
"Orang datang ke puskesmas harus senang hati, agar yang sehat tetap sehat dan yang sakit bisa cepat sehat sehingga jumlah pasien yang dirujuk tidak terlalu banyak," pungkas Menkes.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga