Suara.com - Pada tahun-tahun prasekolah, anak akan mulai belajar dari lingkungan sekitar mengenai pengaturan diri, baik dalam hal pilihan makanan dan bagaimana mengatasi emosi mereka.
Ketika anak-anak tidak belajar keterampilan pengaturan diri yang efektif selama tahun-tahun awal, peneliti telah menunjukkan anak akan memiliki risiko lebih besar mengalami obesitas.
Salah satu faktor yang terkait obesitas masa kanak-kanak adalah praktik pemberian makan yang ketat oleh pengasuh primer mereka, seperti orangtua. Implikasinya adalah, hal itu dapat mengganggu kemampuan anak untuk belajar mengatur makanan secara mandiri.
Sebuah studi terbaru dari University of Illinois menunjukkan, genetik anak-anak yang terkait dengan emosi dan kognisi mungkin juga berperan dalam pola ini.
Peneliti dari University of Illinois, Kelly Bost, menemukan cara untuk memecahkan pola yang menyebabkan obesitas masa kanak-kanak bukanlah tentang menyalahkan orangtua. Namun, mendorong orangtua untuk menemukan strategi baru dalam menghadapi emosi anak-anak.
"Beberapa hal yang dilakukan orangtua, mereka mungkin tidak berpikir terkait dengan bagaimana anak mengembangkan kebiasaan makan mereka. Cara orangtua merespons atau menjadi stres saat anak-anak marah mungkin terkait secara tidak langsung," jelas Bost.
"Cara kita menanggapi emosi itu dapat membantu anak mengembangkan keterampilan untuk diri mereka sendiri, mengatur diri sendiri, sehingga tantangan sehari-hari tidak menjadi hal yang luar biasa yang harus mereka kelola sehubungan dengan makanan," sambungnya.
Selain itu, ketika orangtua menawarkan makanan kepada anak-anak kapanpun ketika mereka kesal, anak-anak dapat belajar mengatasi emosi negatif dengan cara makan berlebihan. Kemudian, mereka akan mulai mengembangkan hubungan dengan makanan di awal kehidupan terutama makanan untuk menenangkan.
Bost menjelaskan, literatur telah menunjukkan orangtua yang menggunakan praktik pemberian makan secara terbatas memiliki anak-anak yang cenderung mengalami obesitas.
"Pola ini berkembang dari waktu ke waktu Kami tertarik untuk melihat apa yang dapat mempengaruhi pola perilaku ini, jadi kami dapat mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat memperburuk pola ini atau mengurangi pengaruhnya," ujarnya.
Bost, Margarita Teran-Garcia, Sharon Donovan, dan Barbara Fiese, mengidentifikasi interaksi tiga arah antara indeks massa tubuh anak (IMT), genotipe anak, dan cara orangtua merespons emosi negatif anak dalam prediksi pemberian makanan terbatas.
Menariknya, melihat genetika anak membantu peneliti untuk lebih memahami bagaimana anak-anak cenderung merespons stres. Dengan menggunakan data dari kelompok STRONG Kids, para peneliti memeriksa informasi tentang gaya makan orangtua dan bagaimana orangtua anak usia prasekolah (2 sampai 3 tahun) biasanya bereaksi terhadap emosi negatif anak-anak mereka. Para peneliti melihat faktor-faktor ini dikombinasikan dengan data genetik anak.
Secara khusus, tim peneliti tertarik pada gen COMT, sebuah gen yang diketahui memiliki dampak signifikan pada emosi dan kognisi. Gen ini menghasilkan protein dengan fungsi enzimatik yang membantu dalam pengaturan kadar neurotransmiter (dopamin) di otak. Fungsi sistem COMT dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perubahan yang dihasilkan oleh genetika dalam bentuk polimorfisme nukleotida tunggal (SNP).
"Kita semua membawa dua salinan informasi genetik - satu dari ibu, dan satu dari ayah - jadi sedikit perubahan asam amino bisa memiliki konsekuensi yang besar," tandas Bost.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Obesitas Pediatrik. Demikian seperti dilansir dari Zeenews.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal