Suara.com - Bepergian menggunakan moda transportasi pesawat terbang kini menjadi pilihan utama bagi sebagian orang karena dianggap lebih nyaman dan tercepat. Namun, tak banyak penumpang yang menyadari bahwa perjalanan udara merupakan media tercepat penularan penyakit.
Peneliti dari Arizona State University (ASU) di Amerika Serikat telah mengungkapkan bahwa faktor seperti ukuran pesawat terbang dapat berdampak besar pada tingkat infeksi. Berada pada ruang tertutup selama di pesawat dalam kurun waktu tertentu, memungkinkan virus dan bakteri menyebar cepat dari penderita ke penumpang lainnya.
Tim peneliti seperti Sirish Namilae dan Ashok Srinivasan, menciptakan model pesawat hibrida untuk mengevaluasi bagaimana penyakit menular secara acak melalui kontak dengan penderita di dalam pesawat.
Tujuan pertama adalah untuk membuat simulasi bagaimana infeksi virus Ebola dan demam berdarah pada manusia dan primata lainnya, mungkin menyebar di pesawat terbang.
Model ini memprediksi berapa banyak penumpang yang terinfeksi setelah berada dalam perjalanan udara. Peneliti menemukan bahwa penumpang yang duduk di kursi urutan terakhir, lebih mungkin terinfeksi penyakit dibandingkan mereka yang duduk di kursi bagian tengah atau depan.
Menurut peneliti, penumpang yang duduk di bagian belakang akan menunggu lebih lama untuk mendapatkan kursinya. Mereka akan menunggu penumpang di bagian depan atau tengah lebih dulu mendapat kursinya. Hal inilah yang memicu penumpang di kursi belakang lebih rentan terpapar virus atau bakteri dari penumpang yang telah duduk.
"Mencegah kemacetan di lorong dan menjaga agar penumpang tidak berada di samping seseorang dalam waktu yang sangat lama bisa menurunkan tingkat penularan," ujar peneliti Anuj Mubayi.
Studi tersebut juga menemukan bahwa pesawat dengan kuota 150 kursi lebih rendah tingkat penularan penyakit, ketimbang pesawat dengan jumlah kursi yang lebih besar. Alasannya, pesawat bermuatan sedikit akan membawa penumpang dalam jumlah lebih kecil sehingga tingkat penularan juga lebih rendah.
"Menggunakan pesawat yang lebih kecil selama wabah secara drastis dapat mengurangi kemungkinan penularan infeksi penyakit," kata dia. [Zeenews]
Baca Juga: Hati-hati, Risiko Penularan Penyakit Tertinggi Terjadi di Pesawat
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian