Suara.com - Melody Yazdani adalah seorang ibu dari anak laki-laki berusia 8 tahun bernama Kian. Ia membagikan foto Kian yang sedang tidur di media sosial dan memeringatkan orangtua lain mengenai tanda bahaya yang nampak di foto tersebut. Dalam foto tampak Kian tidur menganga.
Sebelumnya, Kian kerap digambarkan sebagai anak yang nakal. Melody beberapa kali dipanggil pihak sekolah karena Kian dilaporkan kedapatan mendorong temannya atau bertingkah kasar lain.
Padahal dulu Kian dikenal pintar dan sangat bersahabat. Tapi kemudian semua hal berubah. Kian selalu mengalami tantrum setiap pagi dan sebelum tidur.
Ia akan mulai melempar sesuatu atau memukul-mukul. Ia juga mulai berteriak heboh sejak pukul lima pagi.
Kian lalu 'dilarikan' kepada seorang terapis yang merekomendasikan tes ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.
Sampai pada 24 Oktober lalu, Melody membagikan foto Kian yang sedang tidur di Facebook dengan keterangan foto yang sangat panjang.
Dia menulis, "Untuk semua orangtua. Apabila kalian memiliki anak, saya akan memberi tahu kalian sesuatu yang perlu kalian tahu dan mungkin tidak pernah kalian dengar. Dan tolong bagikan kisah ini. Ada tanda bahaya dalam foto yang saya bagikan ini. Apakah kalian melihatnya?"
Dan tanda bahaya itu ternyata adalah mulut Kian yang menganga ketika tertidur. Melody mengklaim menemukan sebuah artikel yang mengaitkan kondisi ADHD dengan masalah tidur dan bernafas dengan mulut.
"Anak-anak tak seharusnya bernafas dengan mulut mereka. Tidak saat terbangun atau tidur, tidak. Bernafas dengan mulut adalah hal yang tidak normal dan memiliki konsekuensi panjang pada kesehatan. Saya ulangi, karena ini sangat penting, TIDAK BERNAPAS DENGAN MULUT SAAT SIANG ATAU MALAM", tulisnya lagi.
Baca Juga: Damai Putra Group Luncurkan Rumah 2 Lantai Rp 900 Jutaan
Ia lalu menjelaskan saat bernapas dengan mulut, otak dan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Saat malam, kekurangan oksigen ini akan mengakibatkan kualitas tidur yang berkurang serta kemampuan otak untuk beristirahat akan menurun.
Ia juga mengklaim setiap anak yang memiliki masalah ADHD dan memperbaiki pola tidur, akan memperbaikin kondisi mereka 70 persen lebih baik selama enam bulan terapi.
"ADHD terobati. Karena itu bukan ADHD. Ini ada pada anak sebesar 70 persen. Biarkan hal tersebut hilang."
Kian sendiri kemudian didiagnosis memiliki masalah sleep apnea dan sinusitis.
"Kita tidak tahu kalau ternyata Kian mengalami sakit kepala setiap hari, dan ia tidak pernah memberi tahu kami."
Melody lalu melihat perubahan ke arah yang lebih baik setelah Kian menjalani terapi bernapas lewat hidung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Serangan Kilat AS-Israel di Hari Pertama Gagal Total! 200 Tentara Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
-
Jenderal Iran: Trump Harus Tahu, Hari Ini Kami Baru Tembakkan Rudal Stok Lama
-
Israel Klaim Menhan Iran dan Komandan Garda Revolusi Tewas, Nasib Khamenei Masih Misterius
-
Menlu Iran: Demi Allah! Kami Akan Balas Kematian 51 Siswi SD yang Dibantai Israel - AS
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia