Suara.com - Wabah campak yang berkembang di negara bagian Washington, Amerika Serikat (AS) membuat pemerintah setempat mengeluarkan peringatan keadaan darurat pada hari Jumat lalu.
Saat ini, 35 kasus telah dikonfirmasi di Clark County, sebuah county barat daya yang mencakup Vancouver, dan 11 kasus potensial yang sedang menunggu konfirmasi. Ada juga satu kasus yang dikonfirmasi di King County, termasuk Seattle.
Peringatan keadaan darurat dilakukan, mengingat campak adalah penyakit yang sangat menular. Virus ini dapat hidup hingga dua jam di mana pun dari orang yang terinfeksi saat batuk atau bersin.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, 90 persen orang yang tidak divaksinasi campak, menularkan penyakit ini, sehingga orang lainnya juga akan terinfeksi.
Hal ini memang sangat disayangkan, karena wabah campak di AS sempat menghilang dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi wabah kembali ketika gerakan anti-vaksin meningkat. Sebanyak 18 negara bagian saat ini mengizinkan pengecualian vaksinasi "filosofis" non-medis.
Sebagian besar kasus memang terjadi pada anak-anak. Dan sebagian besar anak-anak itu tidak diimunisasi. Sebanyak 25 dari 35 orang di Kabupaten Clark yang terkena campak adalah anak-anak berusia antara 1 dan 10 tahun, sedangkan sembilan lainnya berusia antara 11 dan 18 tahun. Sejauh ini, hanya satu orang dewasa di daerah tersebut yang terserang penyakit tersebut dilansir dari Huffpost.
Mengejutkan, 31 dari 35 orang yang terkena tidak divaksinasi. Status vaksinasi untuk empat orang sisanya belum jelas sampai saat ini.
Yang jelas bagi para ahli adalah, pilihan orang tua untuk tidak memvaksinasi anak-anak mereka, membuat orang lain berada dalam risiko dan memungkinkan campak terus menyebar.
Pakar kesehatan masyarakat merekomendasikan anak-anak mendapatkan dua dosis vaksin MMR, yang pertama ketika mereka berusia 12 bulan, dan yang kedua antara usia 4 dan 6 tahun.
Baca Juga: 10 Bocah Ditemukan Tewas dengan Kondisi Gigi Terlepas, Diduga Korban Sihir
Wabah campak di Washington adalah contoh dari apa yang bisa terjadi ketika orang tua tidak memvaksinasi anak-anak mereka karena alasan filosofis atau keagamaan. Dan bagaimana hal itu ternyata dapat menempatkan anak-anak mereka sendiri dan orang lain dalam risiko.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
-
Bupati Muara Enim Resmi Pakai Rompi Oranye KPK
-
Luhut Bawa Chatib Basri ke Istana, Ini Tujuannya
-
Di Mana Menkeu Purbaya saat Chatib Basri Dipanggil Prabowo ke Istana
Terkini
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?
-
Memilih Susu Anak Tak Cukup Lihat Kandungan DHA, Orang Tua Perlu Cermati Komposisi Utamanya
-
Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak
-
Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya
-
Etawanesia dan Etawalin: Rekomendasi Susu Kambing Etawa Unggulan, Paling Diminati 2 Tahun Terakhir