Suara.com - Hari Anak Nasional yang jatuh setiap tanggal 23 Juli sejatinya dirayakan untuk menghormati hak-hak anak di Indonesia. Salah satu hak yang seharusnya mereka dapatkan adalah waktu dan kebahagiaan dari kedua orangtuanya.
Nah, sudahkah Anda memberikan kedua hal tersebut? Karena kebahagiaan yang dirasakan anak memiliki dampak besar pada kehidupan mereka di jangka panjang.
Lalu, apa yang harus dilakukan orangtua agar bisa membesarkan anak yang bahagia? Inilah cara membesarkan anak yang bahagia, seperti dilansir dari Very Well Family.
1. Dorong anak untuk bermain di luar ruangan
Studi menunjukkan aroma alam, seperti pohon pinus, rumput, dan lavender dapat meningkatkan suasana hati anak. Anda bisa mendorong anak untuk membaca buku di luar atau mengerjakan pekerjaan rumahnya di teras hanya untuk memberinya dorongan kebahagiaan instan.
Bermain di luar juga dapat meningkatkan keterampilan sosial pada anak. Studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam Journal of Science and Medicine in Sport menemukan bahwa anak-anak memiliki waktu bermain di luar lebih banyak akan meningkatkan kemampuan empati dan pengendalian diri — yang merupakan keterampilan sosial yang kritis.
Anak-anak dengan keterampilan sosial yang lebih baik cenderung menikmati hubungan yang lebih sehat. Satu studi menemukan anak-anak dengan keterampilan sosial yang lebih baik juga dua kali lebih mungkin untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan cenderung mengalami penyalahgunaan zat terlarang, obesitas, dan kekerasan.
2. Batasi bermain gadget
Anak Anda mungkin tampak bahagian jika bermain video game berjam-jam. Tetapi terlalu banyak main gadget buruk untuk kesehatan psikologis anak Anda.
Sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Emotion menemukan bahwa remaja yang menghabiskan lebih sedikit waktu pada perangkat digital mereka dan lebih banyak waktu untuk kegiatan non-layar, seperti olahraga, pekerjaan rumah, kegiatan keagamaan, dan kegiatan pribadi lainnya, akan lebih bahagia.
Tetapkan batas yang jelas untuk waktu bermain gadget. Batasi aksesnya saat Anda melakukan kegiatan keluarga, mengendarai mobil, atau ketika dia bermain di luar.
Baca Juga: 5 Diskon Rayakan Hari Anak Nasional, Nomor 5 Ada yang Gratis
3. Ajarkan anak untuk bersyukur
Membiasakan berterima kasih dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu anak menjadi lebih bahagia dan lebih sehat. Namun, perlu diingat bahwa ada perbedaan besar antara memaksa berterima kasih dan benar-benar memahaminya.
Sebuah studi tahun 2012 tentang rasa terima kasih menemukan bahwa orang yang bersyukur akan menikmati hubungan yang lebih baik, dan itu bisa menjadi kunci untuk menjalani kehidupan yang lebih bahagia. Salah satu cara terbaik untuk membantu anak-anak menjadi benar-benar bersyukur adalah dengan melatih mereka mengucapkan terima kasih.
Jadikan kebiasaan bersyukur ini sebagai hal yang biasa dilakukan. Misalnya, Anda bisa mengidentifikasi tiga hal yang Anda syukuri di meja makan, atau bicarakan tentang apa yang Anda syukuri sebelum tidur. Ini akan membantu anak belajar mencari hal-hal yang dapat mereka syukuri dalam kehidupan sehari-hari mereka.
4. Ajarkan anak untuk memiliki harapan yang tinggi, tapi jangan terlalu tinggi
Harapan Anda memiliki dampak besar pada kesediaan anak untuk menantang dirinya sendiri. Anak-anak akan bekerja keras untuk memenuhi harapan orangtuanya selama harapan itu masuk akal.
Studi menunjukkan ketika orangtua memiliki harapan akademis yang tinggi terhadap anak-anak mereka, anak-anak melakukan yang lebih baik di sekolah dan mereka bertahan lebih lama pada tugas-tugas sulit. Harapan tinggi juga terkait dengan ketahanan sosial dan skolastik.
Tetapi penting untuk dicatat bahwa Anda seharusnya tidak mengharapkan kesempurnaan. Mengatur target terlalu tinggi untuk anak kemungkinan malah akan menjadi bumerang.
Mengharapkan anak Anda menjadi sempurna dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental pada anak. Dan anak mungkin juga menyerah pada cita-citanya yang telah ia tentukan jika dia merasa Anda menetapkan standar yang terlalu tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?