Suara.com - Orthokeratology, Metode Koreksi Mata Minus dan Silinder Tanpa Operasi
Mata minus dan silinder merupakan dua masalah mata yang paling umum di masyarakat. Bahkan menurut survei yang dilakukan oleh dokter mata DR. dr Tri Rahayu, SpM(K), FIACLE pada 2010 tercatat, sekitar 57.78 persen anak sekolah dasar yang tinggal di kawasan urban memiliki masalah mata.
Beberapa masalah penglihatan di antaranya adalah rabun jauh, rabun dekat, dan silinder sehingga memerlukan alat bantu optik seperti kacamata dan lensa kontak.
Hanya saja, tidak semua orang nyaman menggunakan dua hal tersebut untuk kegiatan sehari-hari terutama bagi mereka yang aktif dengan kegiatan fisik.
Untuk itu, JEC Eye Hospital & Clinics memperkenalkan salah satu metode alternatif untuk mengoreksi kelainan refreksi mata minus dan silinder tanpa bedah yaitu dengan menggunakan lensa kontak khusus yaitu Orthokeratology atau Ortho-K.
"Ortho-K adalah tindakan untuk mengoreksi mata minus disertai silinder dengan menggunakan lensa kontak yang bentuknya khas dibanding lensa kontak biasa. Metode Ortho-K dapat menjadi alternatif untuk koreksi kelainan refraksi mata minus atau silinder bagi penderita yang ingin terbebas dari pemakaian kacamata namun tidak memenuhi persyaratan untuk tindakan lasik," kata Tri saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Rabu, (13/11/2019).
Pengguna Ortho-K akan diminta memakai lensa kontak khusus yang lunak dan lentur sepanjang malam ketika tidur. Nantinya lensa tersebut bekerja mendatarkan permukaan kornea sehingga ketika dilepas saat bangun tidur, pasien dapat melihat dengan jelas dan dapat beraktivitas tanpa bantuan kacamata sepanjang hari.
Tri melanjutkan, jika minus masih rendah, hasil lensa dapat bekerja sampai tiga hari. Sementara jika minus sudah di atas tiga, maka Tri akan menganjurkan pasien menggunakan lensa setiap malam dengan durasi delapan jam (optimal).
"Kami mengharuskan pasien untuk berkonsultasi sebelum menjalani metode Ortho-K dengan dokter spesialis mata untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi matanya. Selama menjalani metode ini, pasien juga harus rutin berkonsultasi sesuai arahan dokter," tutup Tri.
Baca Juga: Potongan Kertas Masuk ke Mata, Gadis 7 Tahun Alami Kebutaan
Berita Terkait
Terpopuler
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
- Terpopuler: 7 HP Layar Super Amoled, Samsung Galaxy A07 5G Rilis di Indonesia
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Tantangan Pasien PJB: Ribuan Anak dari Luar Jawa Butuh Dukungan Lebih dari Sekadar Pengobatan
-
Gen Alpha Dijuluki Generasi Asbun, Dokter Ungkap Kaitannya dengan Gizi dan Mental Health
-
Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak, Antrean Operasi Capai Lebih dari 4.000 Orang
-
Bandung Darurat Kualitas Udara dan Air! Ini Solusi Cerdas Jaga Kesehatan Keluarga di Rumah
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026