Suara.com - Beberapa hari lalu, jagad Twitter sempat viral dengan aksi tukang bakso yang merebus mi instan bersama dengan kemasannya. Padahal, seperti yang kita tahu, kemasan plastik sangatlah berbahaya jika dipanaskan atau bersentuhan dengan makanan panas.
Lalu bagaimana pendapat pakar soal hal ini? Benarkah kemasan plastik mi instan yang ikut direbus itu bisa mengontaminasi makanan yang direbus bersama dengannya?
Guru Besar Pangan dan Gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS membenarkan zat berbahaya plastik yang direbus akan mengontaminasi air dan makanan. Tapi, efeknya tidak akan langsung terasa dalam jangka pendek, melainkan berimbas pada jangka panjang.
"Itu pasti terjadi kontaminasi. Dan plastik itu kan tidak masuk kategori makanan, oleh karena itu dia pasti akan mengganggu kegiatan, bukan dalam jangka pendek, tapi jangka panjang," ujar Prof. Ali saat dihubungi Suara.com, Kamis (16/1/2020)
"Kadang-kadang, orang makan plastik campur bakso itu dia rasa nggak ada masalah. Itu (kalau) sekali, tapi kalau jadi kebiasan?" lanjutnya.
Prof. Ali menyoroti kasus ini pernah terjadi seperti minyak goreng yang dipanaskan bersama dengan bungkus plastiknya, untuk membuat rasa makanan lebih gurih. Padahal, itu tidak boleh, karena sesuatu yang bukan memang sebaiknya tidak diproses sebagai makanan. Ia kemudian meminta para pedagang untuk diedukasi dan diberi pemahaman terkait ini.
Dosen yang yang aktif di Departemen Gizi Masyarakat IPB itu mengatakan zat yang boleh masuk ke tubuh adalah makanan, dan plastik tidak boleh masuk ke tubuh karena dampaknya akan berbahaya.
"Kalau unsur plastik itu kan harusnya bukan makanan, sehingga tentu tidak bisa dikatakan aman saja, karena bagaimanapun kalau dia tidak berupa makanan, tidak boleh masuk dalam tubuh seseorang. Tapi biasanya orang sering kaitkan kanker dan sebagainya," papar Prof. Ali.
Sayangnya, apakah benar hal ini bisa menyebabkan kanker, belum ada penelitian lebih lanjut terkait hal ini. Kata Prof. Ali, kanker bersifat multi faktor, dan bukan single faktor.
Baca Juga: Bottega Veneta Rilis Sandal Mahal, Warganet: Itu Mi Instan?
"Ini yang terus terang saya belum baca, tetapi diketahui bahwa kanker itu penyakit yang penyebabnya multi faktor, tidak danggap single faktor, artinya kalau sudah kena kanker yang dirasakan, dia harus berobat karena sifat kanker itu yang multifaktor," tutupnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
Pilihan
Terkini
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar