Suara.com - Fenomena panic buying sudah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Barang yang paling dicari masyarakat sejak virus corona Covid-19 terdeteksi di negara ini, Senin (2/3/2020), adalah masker, hand sanitizer, hingga Alat Pelindung Diri (APD).
Seorang profesor psikologi di Universitas Hong Kong, Christian Chan, mengatakan, tingkat kecemasan yang terlihat dalam gelombang panic buying baru-baru ini mencerminkan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
"Pernyataan dari mana Anda mendapatkan informasi, siapa yang dipercayai, adalah sesuatu yang telah kami tangani beberapa bulan terakhir. Kami telah melihat orang-orang jatuh ke dalam perangkap sumber berita yang meragukan," kata Chan, dilansir South China Morning Post, Rabu (4/3/2020).
Ia menambahkan, orang-orang perlu lebih mengerti tentang bagaimana mereka mendapatkan informasi dalam suatu kondisi krisis dan memilah asupan berita untuk menghindari perasaan panik.
"Masalahnya adalah kepercayaan pada pemerintah berada pada titik terendah... Pemerintah perlu membangun kembali kepercayaan itu," sambungnya.
Di sisi lain, seorang profesor psikologi sosial di University of Sussex di Inggris, John Dury, telah melakukan penelitian yang luas tentang psikologi dalam kerumunan atau kelompok.
Dury memperingatkan, nasihat 'jangan panik' dinilai lebih buruk dari tidak berguna.
Menurutnya, saran seperti itu didasarkan pada ketidakpercayaan pemerintah terhadap masyarakat. Pada akhirnya hal ini 'menabur' ketidakpercayaan karena ini dianggap menunjukkan 'pemerintah menahan atau menutupi sesuatu dari publik'.
"Referensi 'kepanikan' berisiko menciptakan ketidakpercayaan di masyarakat itu sendiri. Ketika pemerintah dan media memberitakan tetangga [melakukan] panic buying, kita membayangkan orang-orang di sekitar bertindak secara individual, [karena mereka] bergegas menimbun barang untuk diri mereka sendiri," lanjut Dury.
Baca Juga: Marak Fenomena Panic Buying karena Corona, Ini Cara Meresponsnya!
Itulah sebabnya, tambah Dury, pemberitaan tentang panic buying mendorong lebih banyak orang untuk melakukannya juga, yang tujuannya untuk melindungi diri sendiri.
Berita Terkait
-
Pemerintah Bentuk Tim Investigasi Usut Meninggalnya 5 Calon Manajer Kopdes
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
BRI Apresiasi Penempatan Dana SAL Pemerintah, Fokus Pembiayaan Produktif untuk Akselerasi Ekonomi
-
Dapur MBG Fiktif dan Rapuhnya Pengawasan Uang Publik: Alarm Tata Kelola Negara
-
Sekolah Rakyat: Solusi Kemiskinan atau Sekadar Program Jangka Pendek?
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak
-
Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh
-
Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C
-
Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma