Suara.com - Pandemi virus corona Covid-19 telah memaksa manusia untuk membatasi kontak dengan lingkungan luar dan tetap di dalam rumah. Namun sebagian orang masih mengabaikan imbaun tersebut tanpa memedulikan risiko penularan virus corona.
Di Amerika Serikat bahkan festival musim semi tetap digelar dan banyak orang memadati pantai. Mengapa sebenarnya orang tidak menganggap serius ancaman virus corona?
Tim Gordon Asmundson, seorang profesor psikologi di Universitas Regina di Saskatchewan, sedang mempelajari bagaimana faktor-faktor psikologis berdampak pada penyebaran dan respons terhadap Covid-19.
Melansir laman CNN, menurut Asmundson, manusia bisa dibedakan menjadi tiga kelompok berdasarkan responsnya terhadap pandemi. Yaitu, menanggapi berlebihan, kurang menanggapi, dan mereka yang berada di antara keduanya.
Para penanggap berlebih diidentikkan dengan perilaku panic buying. Mereka takut tidak bisa keluar rumah karena penyebaran virus corona. Sehingga menimbun banyak makanan bahkan hingga tumpukan kertas toilet.
Sementara orang-orang yang kurang menanggapi, mereka tidak mematuhi pedoman kesehatan bahkan menganggap dirinya kebal. Mereka juga tidak mengikuti jarak sosial karena merasa tidak akan sakit.
Padahal telah disosialisasikan bahwa berkumpul di tengah orang banyak hanya meningkatkan risiko seseorang terpapar.
Membatasi kontak dengan orang lain adalah satu-satunya cara untuk memperlambat penyebaran virus corona baru.
Namun bagi sebagian orang, viris Corona Covid-19 tampak seperti masalah yang hanya ditanggung oleh kota-kota berpenduduk padat atau negara asing.
Baca Juga: Miris! Tenaga Medis RS Persahabatan Ditolak Warga di Wilayah Domisilinya
Masyarakat di negara Barat mengabaikan nasihat untuk tetap di rumah. Itu karena terlalu membingungkan, kata Steven Taylor, seorang psikolog klinis dan penulis "The Psychology of Pandemics," sebuah pandangan bersejarah tentang bagaimana orang merespons krisis semacam itu.
Orang yang tinggal di lingkungan kecil, di mana infeksi tidak menyebar atau petugas tidak memberlakukan lockdown mungkin kurang mau menjauhkan diri dari orang lain, jelas Taylor.
"Orang-orang meremehkan pentingnya, mungkin karena mereka tidak melihat orang-orang di lingkungannya terkena virus," kata Taylor.
Beberapa negara bagian Barat, khususnya AS, dikenal sangat menghargai kebebasan individu. Selama pandemi, pola pikir itu bisa berakibat fatal bagi mereka yang paling rentan, kata Taylor. Mereka hidup dengan penyakit yang tak terlihat.
Itu sebabnya petugas kesehatan hingga selebriti meminta masyarakat untuk tetap di rumah. Bukan untuk dirinya sendiri tetapi demi keselamatan orang lain
Kelompok ketiga, yakni orang kesulitan melakukan social distancing. Hal tersebut bisa sangat sulit bagi orang tua yang memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat depresi dan kesepian.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia