Selama dirawat di ruang isolasi, Yuri mengemukakan bahwa tenaga kesehatan seperti suster juga berkomunikasi dengan hanya melalui interkom. Misalnya meminta tolong Yuri mengukur suhu sendiri, atau mengantar makanan ke depan ruangan netral.
Hal yang berat, kata Yuri, adalah tidak adanya hiburan. Ruangan tersebut tak ada televisi, bahkan tidak ada sinar matahari yang masuk.
Satu-satunya hiburan yang bisa ia akses adalah ponselnya, dan tak semua provider memiliki akses di sana.
"Dan setelah dua hari, saya baru menemukan hiburan saya di sana, yaitu mandi. Karena ada air hangat kencang banget. Dan yang bikin nggak stres itu. Satu hari saya bisa mandi sampai tiga kali," kelakarnya.
Selama isolasi, Yuri tidak diinfus, hanya dimonitor saja. Diberi makan sehari tiga kali, diberi susu tinggi vitamin dua kali sehari dan beri vitamin dua kali sehari.
Ia juga mengaku merasa iba dengan para tenaga medis yang harus bersiap-siap kurang lebih selama 10 menit untuk mengenakan APD apabila akan masuk ke ruangan netral.
Namun ia salut bahwa semuanya sangat kooperatif semasa ia diisolasi dan diakuinya bekerja sangat luar biasa.
Selain mengenakan APD lengkap, minimal para tenaga medis yang tidak masuk ke ruangan netral harus mengenakan masker dan pembungkus sepatu.
Semua tenaga medis baik dokter maupun perawat yang mengenakan pakaian APD lengkap harus melepaskan semuanya apabila hendak menuju pasien atau ruangan selanjutnya.
Baca Juga: Mamberamo Tengah Papua Lockdown karena Virus Corona: Demi Nyawa Manusia
"Mereka tuh bener-bener mempertaruhkan, udah berisiko. Saya yakin itu nggak nyaman banget, gerah banget. Terbukti kacamata mereka itu udah sering berembun, dan mereka berusaha di dalam itu ngobrol sama kita," kata Yuri.
Yuri juga menceritakan betapa terbantunya ia dengan kehadiran para tenaga medis. Suatu hari karena minimnya hiburan, ia sampai memohon pada dokternya untuk menemaninya mengobrol sebentar.
"Sejujurnya saya butuh temen ngobrol di masa isolasi itu. Gila, itu sumpah, ada istilah yang kalian diam rumah aja itu benar, karena jangan sampai kita makin ngerepotin si petugas medis," imbuhnya lagi.
Dinyatakan Sembuh
Tujuh belas hari kemudian pada tanggal 20 Maret 2020, Yuri dinyatakan sembuh dan boleh pulang ke rumah. Akan tetapi ia masih harus menjalani karantina diri kembali selama 14 hari di rumahnya.
Yuri berharap bagi semua masyarkat Indonesia untuk tidak egois dan mematuhi peraturan untuk berada di rumah saja dan melakukan social distancing. Selain itu, ia juga menegaskan untuk para laki-laki dan perokok untuk mengurangi merokok agar tidak berisiko tinggi terpapar virus corona Covid-19.
"Saya baca juga berita di China itu banyak yang meninggal dan nggak tertolong itu laki-laki. Kenapa laki-laki? Karena di riset, laki-laki itu lebih banyak merokok. Jadi di China itu korbannya perokok kebanyakan," katanya.
Ia mengaku sudah lama berhenti merokok dan tahu betapa sulitnya untuk menghentikan kebiasan candu tersebut. Akan tetapi demi diri sendiri dan juga orang-orang di sekitar, ia meminta tolong agar para perokok mengurangi intensitasnya.
Mematuhi social distancing juga menurutnya sangat penting untuk menahan penyebaran virus tersebut. Asal kita semua bisa menjaga diri sendiri, seperti meningkatkan daya tahan tubuh dengan memperbanyak vitamin.
Yuri juga menyarankan bagi yang berada di rumah saja untuk sesekali keluar rumah agar mendapatkan sinar matahari dan melakukan berolahraga.
"Olahraga jangan lupa. Karena daya tahan tubuh sangat berpengaruh," tegasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem
-
Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik