Suara.com - Endometriosis adalah suatu kondisi di mana jaringan yang mirip dengan lapisan rahim mulai tumbuh di tempat lain, seperti saluran tuba.
Gejala endometriosis meliputi nyeri menstruasi yang parah, nyeri saat berhubungan seks, sakit punggung, darah dalam urine, masalah pencernaan dan kesulitan hamil.
Parahnya lagi, sebagian besar wanita mengalami pertumbuhan jaringan ini tidak hanya di organ reproduksi. Artinya, kondisi ini bisa menyebabkan masalah kesehatan yang sangat dahsyat bila dibiarkan.
Namun, diagnosis kondisi ini mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun, karena gejala endometriosis yang sangat bervariasi.
Eastenders Mica Keeble, salah satu penderita endometriosis yang membuatnya mengalami kerusakan paru-paru berkali-kali. Selain itu, ia juga mengalami pendarahan selama 3 bulan berturut-turut.
Saat ini, satu-satunya tes untuk memastikan seseorang menderita endometriosis adalah laparoskopi. Lantas, operasi invasif adalah tindakan medis untuk mengangkat jaringan endometriosis.
Tetapi, penelitian baru dari University of California menunjukkan bahwa DNA bisa menghadirkan alat diagnostik baru.
Temuan ini bisa membantu tenaga medis untuk menentukan perawatan endometriosis yang lebih baik dan wanita yang menderita kondisi ini bisa didiagnosis lebih awal.
Para ilmuwan telah membandingkan DNA di dalam rahim wanita yang terkena endometriosis dan wanita yang tidak mengalami masalah kesehatan tersebut.
Baca Juga: Waspada, Orang dengan Endometriosis Berisiko Terinfeksi Corona Covid-19
Tingkat keparahan kondisi ini ditunjukkan dari ragam gejalanya dan respons hormon siklus menstruasinya yang berbeda-beda.
Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati fibroblast berjalan di endometrium, sel yang mengatur sel-sel dalam lapisan rahim.
Peristiwa metilasi sel atau perkembangan dibandingkan pada DNA wanita dalam 5 tahap endometriosis dan wanita yang sehat. Peneliti melihat pola dan fungsi yang baik-baik saja setelah sel-sel terpapar hormon.
Hormon yang dimaksud adalah estrogen, progesteron dan keduanya, yakni hormon utama yang terlibat dalam menstruasi.
Studi ini menunjukkan bahwa pola metilasi dan fungsi gen antara semua kelompok sel sebelum terpapar hormon dengan paparan masing-masing jenis individu, kemudian terkombinasi.
Perbedaan dalam sel antara tahap satu dan lima sel endometrium bisa berarti bahwa ada 2 subtipe kondisi daripada 1 kondisi dengan berbagai tahap.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- 5 Mobil Toyota Dikenal Paling Jarang Rewel, Ideal untuk Mobil Pertama
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- 6 Moisturizer Pencerah Wajah Kusam di Indomaret, Harga di Bawah Rp50 Ribu
Pilihan
-
Perilaku Audiens Berubah, Media Diminta Beradaptasi dengan AI dan Medsos
-
Pintu Langit Dibuka Malam Ini, Jangan Lewatkan 5 Amalan Kunci di Malam Nisfu Syaban
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
Terkini
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit
-
Super Flu: Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
-
3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan
-
Diam-Diam Menggerogoti Penglihatan: Saat Penyakit Mata Datang Tanpa Gejala di Era Layar Digital