Suara.com - Wabah pes atau bubonic plague yang ditemukan di Mongolia adalah penyakit menular mematikan yang disebabkan oleh bakteri Yersinia. Bakteri ini hidup di beberapa hewan terutama tikus dan marmut yang berasal dari kutunya.
Penyakit menular ini termasuk bentuk paling umum dari infeksi yang bisa diderita orang. Wabah pes bisa menyebabkan nyeri, pembengkakan kelenjar getah bening atau bubo yang terletak di ketiak maupun selangkangamm.
Secara historis, wabah pes juga disebut "black death" atau kematian hitam yang mengacu pada menghitamnya anggota tubuh akibat gangren terkait penyakit ini.
Tetapi, apakah wabah pes ini sudah ada sejak lama?
Sebelumnya, China mendeteksi adanya kasus wabah pes di wilayah Mongolia. Menurut laporan yang dilansir dari Express, penyakit pes ini diderita oleh seorang gembala lokal yang sekarang masih dikarantina meski kondisinya stabil.
Para pejabat di China juga menyelidiki kasus lain yang dicurigai sebagai penyakit pes. Kasus pertama, dugaaan penyakit pes dilaporkan di sebuah rumah sakit di Urad Middle Banner, Bayannur City pada Sabtu (04/07/2020).
Kasus kedua, seorang bocah laki-laki usia 15 tahun yang telah berhubungan dengan seekor marmut. Tapi, belum diketahui jelasas awal mula kedua pasien itu terinfeksi penyakit pes.
Meski begitu, China tetap mengeluarkan peringatan siaga ketiga untuk berjaga-jaga. Karena, wabah yang disebabkan oleh bakteri dan ditularkan melalui gigitan kutu salah satu infeksi bakteri paling mematikan sepanjang sejarah.
Otoritas kesehatan di Bayannur pun sudah mendesak semua orang mengambil tindakan pencegahan ekstra untuk meminimalkan risiko penularan dari orang ke orang.
Baca Juga: Waduh, Suhu Rendah di Musim Dingin Bisa Picu Gelombang Kedua Virus Corona!
"Saat ini ada risiko penyebaran wabah manusia di kota ini. Kita harus meningkatkan kesadaran dan kemampuan perlindungan diri," jelas otoritas kesehatan di Bayannur.
Otoritas kesehatan itu juga meminta semua orang untuk melaporkan marmut yang mati atau sakit sebagai tindakan pencegahan.
Secara historis, marmut memang bertanggung jawab atas wabah penyakit di wilayah tersebut. Selain penyakit pes, marmut juga menyebabkan epidemi wabah pneumonia tahun 1911 yang menewaskan 63 ribu orang di Timur Laut China.
Meskipun epidemi itu hanya terjadi setahun tapi marmut telah menyebabkan wabah penyakit selama bertahun-tahun.
Mei 2020 lalu, sepasang suami istri di Monngolia pun meninggal dunia akibat penyakit pes setelah mengonsumsi marmut mentah.
Masyarakat sekitar memang memercayai konsumsi ginjal marmut mentah baik untuk kesehatan tubuh. Tapi faktanya, hal tersebut sangat berbahaya dan mematikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
Pilihan
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal