Suara.com - Stunting atau masalah kekurangan gizi kronis masih menjadi isu kesehatan utama di Indonesia. Upaya menurunkan angka stunting sendiri terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, pemerintah maupun swasta. Di sisi lain, remaja diyakini menjadi kelompok usia potensial yang bisa dilibatkan dalam berbagai program pencegahan stunting sejak dini.
Dijelaskan Indiana Basitha, Program Advocacy and Communications Manager Tanoto Foundation, salah satu misi Tanoto Faoundation adalah setiap anak mampu mencapai penuh potensi belajarnya. Sementara mencegah stunting menjadi fokus yang pertama untuk mencapai misi tersebut.
"Untuk mencapai misi tersebut, kami berupaya memaksimalkan potensi tumbuh kembang sesuai usia anak, karena kami yakin setiap anak bisa memiliki perkembangan otak yang pesat," jelas Basitha dalam seri webinar “Saatnya Remaja Cegah Stunting” beberapa waktu lalu.
Mengapa remaja dilibatkan? Menurut Basitha, banyak yang menyangka isu stunting hanya untuk orangtua dan pasangan yang sudah menikah.
Padahal, lanjutnya, stunting merupakan sebuah siklus. Jika calon ibu punya asupan gizi kurang sejak remaja, maka ia berisiko memiliki keturunan kurang gizi dan si anak akan mencontoh pola makan ibunya hingga akhirnya siklus terus berputar.
"Siklusnya dimulai sejak remaja putri. Maka masalah stunting harus jadi awareness sejak remaja agar mereka menjaga asupan gizinya, karena ia adalah calon orangtua," tambah Basitha.
Menurut data Riskesdas 2018 tercatat, 8,7 persen remaja usia 13 hingga 15 tahun dan 8,1 persen remaja usia 16 hingga 18 berada dalam kondisi kurus dan sangat kurus.
Global Health survei 2015 juga menunjukkan bagaimana salah satu masalah remaja adalah jarang sarapan dan kurang makan serat sayur buah. Sementara angka pernikahan remaja di Indonesia yang sangat tinggi juga berkontribusi pada kejadian stunting.
Remaja dianggap belum terlalu peduli akan pentingnya gizi dan stimulasi yang tepat. Pengetahuan mereka tentang gizi juga sangat terbatas.
Baca Juga: 6 Perilaku Ini Membuat Ibu Berisiko Melahirkan Anak Stunting
Pengamat kesehatan Dr. Reisa Broto Asmoro juga sependapat bahwa jika di masa remaja belum dapat ilmu tentang gizi, akan sulit ke depannya dalam membina kehidupan keluarga. "Indonesia darurat stunting. Kita butuh gerakan yang nyata, yang bisa mengubah kondisi ini. Kondisi anak sudah stunting tidak bisa berubah, yang penting bagaimana kita harus menyelamatkan generasi setelahnya," ujar dr. Reisa.
Menurut Reisa, saat ini tidak ada ilmu parenting di sekolah dan masih sibuk berkutat tentang pro kontra pendidikan kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, ia berpendapat sudah seharusnya pemerintah memasukan ilmu parenting dalam kurikulum pengajaran. Edukasi di usia remaja sejak usia 10 sampai 19 tahun, menurutnya, sangat krusial.
"Harus tepat informasinya. Apalagi Indonesia kebanyakan mitosnya yang belum tentu benar tapi lebih dipercaya. Takutnya info yang kurang tepat akan mereka bawa terus sampai nanti punya anak," tambah dr. Reisa.
Sementara itu, peran remaja dalam pencegahan stunting berfokus pada tiga hal. Pertama adalah edukasi. Remaja dianggap harus melek dengan isu stunting. Rajin mencari tahu dan terlibat aktif dalam diskusi atau program mengenai stunting.
Kedua adalah inovasi. Remaja bisa membuat inovasi baru yang dapat mengasah ketertarikan teman sebaya mengenai isu ini. Bisa ekplorasi cari tahu tentang stunting. Berperan sebagai peer edukator bagi teman sebaya karena akan lebih impactful dibanding webinar yang kaku.
Ketiga implementasi atau berperan aktif dalam mewujudkan inovasi yang dimiliki dengan berkolaborasi dengan lembaga terkait mau pun universitas. Caranya bisa dengan terjun langsung ke masyarakat, diawali dari lingkungan terdekat (keluarga) untuk memberi edukasi terkait stunting. Mengusulkan program atau membuat inovasi terkait stunting).
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?