Suara.com - Kesehatan jiwa masyarakat selama pandemi Covid-19 menjadi salah satu yang terdampak dari penyebaran virus corona. Banyak orang di seluruh dunia dihadapkan dengan rasa cemas akibat hidup di tengah ketidakpastian dari sisi ekonomi maupun kesehatan.
Salah satunya anak dan orangtua belajar dan bekerja di rumah kerap merasakan depresi. Hal ini juga yang diakui Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI Achmad Yurianto, yang mengakui Covid-19 bukan sekadar virus tapi juga berdampak di kehidupan sosial.
"Permasalahan ini (depresi) tidak hanya terkait langsung virusnya, ancaman bisa kehilangan pekerjaan, tidak bisa bekerja untuk waktu lama menjadi beban yang diyakini bisa menyebabkan gangguan jiwa, usaha tidak jalan, bekerja tidak bisa, ini memberikan dampak luar biasa besar," ujar Yurianto dalam acara Webinar Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Kemenkes RI, Kamis (1/10/2020).
Meski tidak bisa dihitung seberapa besar dampak masyarakat yang depresi selama pandemi, Yurianto memastikan tetap akan membuka layanan dan konsultasi seluas-luasnya. Masyarakat bisa menghubungi call center 119, bagi mereka yang mengalami stres dan depresi berlebihan.
"Banyak yang (depresi) kita lagi coba hitung berapa banyak yang mengalami ini. Kami berikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat tentang seberapa besar dampak kejiwaan mereka akibat pandemi," jelas Yurianto.
Sementara dr. Siti Khalimah, SpKJ, MARS, Direktur P2MKJN menjelaskan ada empat kelompok kategori dalam menghadapi stres saat pandemi Covid-19.
Kelompok pertama adalah mereka yang bisa menghadapi stressor dan bisa mengendalikannya dengan baik, sehingga tidak membutuhkan pertolongan.
Kelompok kedua adalah yang merasa stres dan tidak nyaman tapi hanya membutuhkan dukungan dengan orang sekitar misalnya keluarga, teman, sahabat atau tetangga.
Ketiga adalah mereka yang sudah fase depresi atau stres berat, biasanya membutuhkan pertolongan psikolog. Hanya 5 persen dari total kelompok ini yang membutuhkan penanganan khusus obat atau terapi atau masuk kategori gangguan jiwa.
Baca Juga: Pemprov Kaltim Gelontorkan Rp 536 M untuk Penanganan Covid-19
Kelompok terakhir atau keempat adalah mereka yang dengan gangguan jiwa yang harus segera mendapatkan penanganan khusus karena gejalanya berat.
"Akses disiapkan Kemenkes bekerjasama dengan berbagai organisasi untuk konseling, berusaha membantu masyarakat yang terdampak pandemi, alami cemas dan ketakutan supaya tidak jadi dalam kelompok yang 5 persen," tutup Siti Khalimah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?