Suara.com - Menjelang libur panjang yang jatuh pada 28 Oktober hingga 1 November 2020 meningkatkan kekhawatiran terhadap penambahan kasus virus corona Covid-19. Hal ini disebabkan karena adanya perkiraan peningkatan rekreasi yang dilakukan oleh warga.
"Memang pada saat ratas pak presiden memberikan pesan pada kami mempersiapkan agar libur ini tidak menyebabkan satu penambahan kasus yang banyak karena kita melihat ada kecenderungan keinginan untuk libur," kata Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dalam talk show bertema "Potensi Penyebaran Covid-19 Ketika Libur Panjang" melalui Zoom, Rabu (21/10/2020).
Menurutnya, rata-rata penerbangan hanya mencapai kuota 40 persen namun bisa naik selama liburan menjadi hampir 50 persen.
"Kenaikan 10 hingga 20 persen yang memang mungkin banyak yang berlibur di Jawa itu pakai kereta api dan jalan darat makananya kita berkonsultasi di maskapai kereta api dan darat," kata Budi.
Libur panjang memang sering kali menjadi peluang penambahan kasus virus corona Covid-19. Sebelumnya, penambahan kasus banyak terjadi pada liburan anjang di akhri agustus sehingga menimbulkan peningkatan kasus di awal September.
"Kita semua harus belajar dari masa sebelumnya. Yang pertama adalah peristiewa Idul Fitri di mana pemerintah mangajak semua komponen untuk tidak mudik dan alhamdulillah penigkatan Idul Fitri tidak signifikan," ujar Letjen TNI Doni Monardo, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang juga menjadi pembicara talk show tersebut.
Berbeda dengan Idul Fitri, liburan Idul Adha dan akhir Agustus malah meningkatkan jumlah kasus yang signifikan. Hal ini disebabkan karena mulai adanya pelonggaran pembatasan wilayah dan protokol kesehatan.
Meski pada 20 Oktober terjadi penurunan kasus aktif yakni mencapai 6,79 persen, Doni mengimbau agar masyarakat tetap tak lengah.
"Tapi kita tidak boleh lengah, ini akan membalikkan keadaan. Buktinya pada libur panjang Agustus lalu ada peningkatan kasus yang mengejutkan," ujar Doni.
Baca Juga: Kontak Karyawan Bank yang Positif, Bapak dan Adik Ipar Ikut Terpapar Corona
"Dokter meninggal tertinggi pada Juli-Agaustus, ketika kasus itu meningkat pasien bertambah maka secara pararel angka kematian dokter bertambah. Cuti kali ini jangan sampe jadi masalah baru," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern