Suara.com - Sebuah studi baru menemukan bahwa depresi dan kecemasan berkontribusi pada meningkatnya konsumsi alkohol selama pandemi Covid-19.
Efek tersebut paling terasa bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun. Di antara kelompok orang tua, mereka yang memiliki depresi dan kecemasan dua kali lebih rentan untuk minum lebih banyak alkohol.
Dilansir dari Medical News Today, sebuah penelitian sebelumnya menemukan bahwa konsumsi alkohol menjadi cara untuk membantu mengatasi stres. Ini pernah terjadi pada periode setelah serangan teroris World Trade Center 2001 lalu.
"Peningkatan konsumsi alkohol ini, terutama di antara orang-orang dengan kecemasan dan depresi, sejalan dengan kekhawatiran bahwa pandemi dapat memicu epidemi penggunaan alkohol yang bermasalah," kata penulis bernama Ariadna Capasso, dari NYU School of Global Public Health di New York City.
Temuan peneliti meminta para peserta untuk mendeskripsikan diri mereka secara demografis dan melaporkan bagaimana penggunaan alkohol mereka telah berubah sejak dimulainya pandemi.
Survei tersebut juga memasukkan pertanyaan yang memungkinkan para peneliti untuk mengidentifikasi dan mengukur gejala depresi dan kecemasan partisipan. Setiap orang juga melaporkan sejauh mana mereka merasa berisiko terhadap infeksi SARS-CoV-2.
Dari semua peserta yang mengidentifikasi diri mereka sebagai peminum, 29 persen melaporkan bahwa konsumsi alkohol mereka meningkat selama pandemi.
Individu yang melaporkan, gejala depresi 64% lebih mungkin mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang lebih banyak, sementara kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan peningkatan konsumsi alkohol berjumlah 41 persen lebih tinggi.
Studi tersebut juga menemukan bahwa faktor demografis memengaruhi konsumsi alkohol selama pandemi, yaitu:
Baca Juga: Dua Taman di Pontianak Masih Ditutup, Warga Diminta Bersabar
- Wanita lebih mungkin (33 persen dibandingkan 24 persen) untuk meningkatkan kebiasaan minum alkohol dibandingkan pria.
- Orang yang berpendidikan tinggi lebih cenderung konsumsi lebih banyak sebesar (32 persen) dibandingkan mereka yang tidak memiliki gelar sarjana (25 persen).
- Juga pensiunan (20 persen) melaporkan minum lebih banyak daripada peserta yang bekerja dan saat ini menganggur, 31persen di antaranya mengonsumsi lebih banyak alkohol.
- Dan orang yang tinggal di daerah pedesaan cenderung tidak meningkatkan asupan alkohol mereka (25 persen), dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah pinggiran kota dan perkotaan sebesar (31 persen).
Pengaruh risiko yang dirasakan, salah satu dampak nyata pandemi Covid-19 adalah masyarakat khawatir tertular virus SARS-CoV-2 tersebut.
Para peneliti memisahkan kekhawatiran ini dari kekhawatiran tentang pengembangan kasus Covid-19 yang kian parah.
Mereka menemukan bahwa individu yang menganggap dirinya berisiko lebih tinggi dari menularnya penyakit tersebut, kemungkinan besar telah meningkatkan asupan alkohol.
Menariknya, orang yang konsumsi alkohol lebih banyak, melihat diri mereka berada pada posisi risiko infeksi yang lebih tinggi, tetapi cenderung tidak dengan sakit yang parah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
Pilihan
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
Terkini
-
Bergerak dengan Benar, Kunci Hidup Lebih Berkualitas
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur