Suara.com - Alat bantu dengar kerap menjadi alat vital dan sangat berarti bagi mereka yang mengalami gangguan pendengaran, khususnya bagi bayi yang terlahir tuli agar bisa mendengar selaiknya bayi normal.
Tapi, apakah fasilitas alat bantu dengar ditanggung negara? Jawabannya, iya.
Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Tidak Penyakit (P2PTM) Kemenkes RI dr. Cut Putri Arianie, MHKes, pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan hanya menanggung pembelian alat bantu sebesar Rp 1 juta.
Tapi sayangnya, rata-rata harga alat bantu dengar berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.
"Mudah-mudahan kalau BPJS semakin kuat, alat bantu dengar ini bisa diberikan (dibayarkan full)," ujar dr. Cut dalam acara peringatan Hari Pendengaran Sedunia Kemenkes RI secara virtual, Selasa (2/3/2021).
Dokter Cut mengingatkan, kualitas dan spesifikasi alat bantu dengar tidak bisa disamaratakan, karena setiap orang yang mengalami gangguan pendengaran kondisinya berbeda.
Sehingga alat bantu dengar masing-masing orang juga akan berbeda.
"Ini penting untuk disampaikan, karena ada upaya maksudnya sih untuk berikan bantuan alat bantu, tapi tidak bisa digeneralkan, karena setiap individu itu berbeda-beda jadi perlu pemeriksaan, dan disesuaikan alat bantunya apa yang dibutuhkan," jelas dr. Cut.
Hal ini dibenarkan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia Bedah Kepala Leher (PP PERHATI-KL) Prof. Dr. dr. Jenny Bashiruddin, SpTHT-KL (K) yang mengatakan jika alat bantu dengar yang tidak sesuai akan membuat penderita gangguan pendengaran menjadi tidak nyaman.
Baca Juga: Ini Formasi dan Fokus Direksi BPJS Kesehatan: Siap Dengar Aspirasi
"Kasihan kalau tidak punya (uang membeli alat bantu dengar yang sesuai), dia menggunakan alat bantu dengar yang sebetulnya nggak bermanfaat. Itu masih analog yang masih suara semua terdengar dari luar, sehingga kadang tidak nyaman," terang Prof. Jenny.
"Jadi semua suara berisik dari luar, alat bantu dengar analog seperti hanya membesarkan suara. Tapi mau bagaimana, daripada tidak ada getaran, kadang juga terpaksa harus dibeli," sambungnya.
Berita Terkait
-
BPJS Ketenagakerjaan Ajak Pekerja Manfaatkan Keringanan Iuran 50 Persen JKK dan JKM
-
9.401 Peserta BPJS PBI Tak Terlacak dan 3.934 Lainnya Telah Meninggal, Mensos Beri Penjelasan
-
RS Dilarang Tolak Pasien BPJS PBI, Mensos Tegaskan Layanan Cuci Darah Wajib Dilayani
-
5 Cara Cek Tunggakan BPJS Kesehatan Terbaru 2026 secara Online
-
5 Jenis Pertanggungan BPJS Ketenagakerjaan yang Wajib Diketahui Karyawan
Terpopuler
- 5 Motor Listrik Terbaik Buat Ojol: Jarak Tempuh Jauh, Harga Terjangkau, Mesin Bandel
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- 5 Motor Listrik Fast Charging, Bebas Risau dari Kehabisan Baterai di Jalan
- 6 Bedak Padat untuk Makeup Natural dan Anti Kusam, Harga Terjangkau
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
-
Tragedi Gas Maut di TB Simatupang: 4 Nyawa Melayang dalam Toren, Proyek 8 Lantai Kini Senyap
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak