Suara.com - Seperti obat, vaksin Covid-19 juga dapat menyebabkan efek samping seperti demam, mual, atau sakit lengan pada orang yang mendapatkannya. Ini pun terjadi pada mereka yang menerima vaksin lain.
Meski terlihat mengkhawatirkan bagi beberapa orang, para ahli mengatakan efek samping bisa menjadi tanda bahwa vaksin sedang melakukan tugasnya di dalam tubuh.
Ahli alergi, ahli imunologi dan presiden American Medical Association, Sudan R. Bailey, mengatakan efek samping berkembang karena sistem kekebalan bereaksi terhadap vaksin. Karenanya, dilansir Live Science, orang mungkin mulai mengalami demam, kelelahan, sakit kepala dan nyeri di sekitar area suntikan 12 sampai 24 jam setelah vaksinasi.
Pada vaksin Covid-19, tubuh akan diberi sinyal untuk memproduksi protein lonjakan virus corona, 'alat' yang digunakan virus untuk menginfeksi sel menusia. Kehadirannya akan memulai respons kekebalan dari tiga jenis sel, yakni makrofag, sel T dan sel B.
"Makrofag adalah yang pertama dari sel kekebalan yang mendeteksi dan menghilangkan organisme berbahaya. Sedangka sel T, bermigrasi ke wilayah tempat vaksin disuntikkan untuk mengingat protein lonjakan virus corona, persiapan jika terinfeksi kembali di lain waktu," jelas Nitin Desai, CEO dan kepala pemasaran COVID PreCheck.
Setelah vaksin dikenali sebagai 'benda asing', sel B akan membentuk pasukan antibodi.
Semua sel kekebalan ini menghasilkan protein peradangan yang disebut sitokin. Sitokin merupakan pembawa pesan kimiawi yang membantu mengoordinasikan respons kekebalan dan juga memicu demam, efek samping vaksin.
Suhu yang lebih tinggi membuat tubuh kurang ramah terhadap virus, dan kenaikan suhu merangsang tubuh untuk menciptakan lebih banyak sel kekebalan.
Selain demam, bahan kimia inflamasi ini juga dapat menyebabkan nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan gejala lainnya.
Baca Juga: Nah! AS Hentikan Produksi Vaksin AstraZeneca di Pabrik Baltimore
"Tetapi produksi sitokin mengalami penurunan dalam waktu 24 hingga 48 jam. Itulah sebabnya sebagian besar efek samping hilang dengan sendirinya dalam jangka waktu tersebut," sambung Desai.
Namun, tidak mengalami efek samping setelah vaksinasi bukan berarti tubuh tidak memicu respons kekebalan atau vaksin tidak bekerja.
"Setiap orang berbeda dalam cara mereka memproses vaksin. Tetapi studi klinis menunjukkan 90% hingga 95% pasien memiliki respons yang bagus terhadap vaksin, terlepas dari apakah mereka memiliki efek samping atau tidak," tandas Bailey.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
Terkini
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan