Suara.com - Virus corona Covid-19 nampaknya termasuk virus yang bersifat musiman. Sebuah studi baru menunjukkan suhu hangat dan iklim tropis benar-benar bisa membantu mengurangi penyebaran virus corona Covid-19.
Studi tersebut menemukan bahwa wilayah dengan suhu hangat dan paparan sinar matahari berjam-jam, seperti negara yang dekat dengan ekuator dan mengalami musim panas memiliki tingkat kasus virus corona Covid-19 yang lebih rendah, dibandingkan dengan negara yang jauh dari khatulistiwa dan negara yang mengalami cuaca lebih dingin.
Penemuan ini dilakukan setelah para peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi penyebaran virus corona Covid-19 dan jumlah kasus yang terhitung, seperti tingkat ubanisasi suatu negara dan intensitas pengujian virus corona Covid-19.
Tapi, peneliti menegaskan bahwa temuan mereka ini bukan berarti cuaca panas akan membantu membunuh dan menyingkirkan virus corona Covid-19. Temuan ini memberikan pandangan bagi orang yang terinfeksi virus corona untuk melawan penyakitnya.
"Hasil temuan kami tidak menyiratkan bahwa penyakit itu akan hilang selama musim panas atau tidak akan mempengaruhi negara yang dekat dengan khatulistiwa," kata peneliti dalam jurnalnya dikutip dari Fox News.
Mereka memiliki pandangan bahwa suhu yang lebih tinggi dan radiasi UV (ultraviolet) yang lebih intens di musim panas cenderung mendukung langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk mencegah virus corona Covid-19.
Tak lama setelah pandemi Covid-19 dimulai pada musim dingin 2020 lalu, ada spekulasi bahwa musim panas bisa meredakan virus corona Covid-19. Banyak virus pernapasan, termasuk virus flu menunjukkan pola yang meningkat selama musim dingin dan menurunkan selama musim panas.
Para ilmuwan tidak tahu pasti hal yang menyebabkan virus ini mengikuti pola musiman. Tetapi, ada sejumlah faktor yang diduga berperan kuat dalam hal tersebut.
Misalnya, banyak virus yang bertahan lebih stabil dan lebih lama di lingkungan dengan suhu dingin dan kelembapan rendah. Lalu, perilaku manusia yang berkumpul di dalam ruangan pada musim dingin bisa meningkatkan penularan virus tersebut.
Baca Juga: Dinkes Batam Duga Varian Baru Virus Corona Sudah Masuk Kepri
Studi di laboratorium piring juga menemukan bahwa suhu dan kelembapan yang tinggi bisa menurunkan kemampuan bertahan hidup virus corona Covid-19. Tapi, belum jelas faktor cuaca itulah yang akhirnya menyebabkan penyebaran di seluruh dunia ini atau tidak.
Dalam studi baru, para peneliti menganalisis informasi dari 117 negara, menggunakan penyebaran data virus corona Covid-19 dari awal pandemi hingga Januari 2021.
Mereka menggunakan metode statistik untuk mengatur hubungan antara garis lintang suatu negara, yang mempengaruhi jumlah sinar matahari serta suhu dan kelembapan dan tingkat penyebaran virus corona.
Mereka juga menggunakan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengontrol faktor-faktor yang tidak bisa dipengaruhi suara negara yang terkena virus corona, seperti perjalanan Udara, pengeluaran perawatan kesehatan, rasio orang dewasa tua dan perkembangan ekonomi.
Mereka menemukan bahwa setiap kenaikan 1 derajat di garis lintang suatu negara dari khatulistiwa dikaitkan dengan peningkatan jumlah kasus virus corona 4,3 persen per juta orang.
Artinya, bila suatu negara berjarak 620 mil (1.000 kilometer) lebih dekat ke khatulistiwa dibandingkan dengan negara lain, negara yang lebih dekat ke khatulistiwa diperkirakan memiliki lebih sedikit kasus virus corona, yakni 33 persen per juta orang.
"Hasil kami konsisten dengan hipotesis bahwa panas dan sinar matahari bisa mengurangi penyebaran virus corona Covid-19 dan prevalensinya," kata peneliti dari Heidelberg Institute of Global Health di Jerman dan Chinese Academy of Medical.
Temuan itu juga berarti ancaman kebangkitan epidemi bisa meningkat selama musim dingin, seperti yang terlihat di banyak negara di Belahan Bumi Utara pada Desember 2020 hingga Januari 2021.
Para peneliti mengatakan bahwa penelitian mereka hanya mencaku data hingga 9 Januari 2021, sebelum kemunculan sejumlah varian baru virus corona Covid-19. Jadi, mereka belum tahu sejumlah varian baru virus corona itu akan menunjukkan pola infeksi serupa atau tidak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!