Suara.com - Kasus Covid-19 Indonesia telah melampaui angka 2 juta setelah mengalami lonjakan kasus sejak beberapa hari terakhir. Hal ini memicu desakan untuk melakukan lockdown alias penguncian wilayah menguat.
Berdasarkan data pada situs worldometers, dalam sepekan terakhir kasus positif covid 19 Indonesia bertambah sebanyak 89.898 kasus atau meningkat 50 persen dari dua pekan lalu.
Tingginya kasus harian tersebut menimbulkan berbagai pandangan agar pemerintah menerapkan lockdown untuk mencegah penularan virus corona semakin meluas. Usulan salah satunya disampaikan ketua Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djurban yang mengatakan seharusnya pemerintah menerapkan lockdown selama dua pekan.
"Saran saya. Lebih bijaksana bagi Indonesia untuk terapkan lockdown selama dua minggu. Untuk apa? Memperlambat penyebaran, meratakan kurva, menyelamatkan fasilitas kesehatan, dan yang pamungkas: menahan situasi pandemi jadi ekstrem--yang akan membahayakan lebih banyak nyawa," tulis Zubairi melalui akun twitternya, beberapa hari lalu.
Diakui Kementerian Kesehatan bahwa lonjakan kasus positif Covid memang berisiko sebabkan meningkatkan beban kerja tenaga kesehatan juga kapasitas tempat tidur rumah sakit.
"Kalau peningkatan kasus pasti tenaga kesehatan akan terbebani. Tapi kita masih bersyukur, karena kalau terkena pun masih tahap ringan sehingga bisa isolasi di rumah atau pun tempat isolasi yang disediakan pemerintah," kata Koord. penceghan dan pngendalian gangguan indera Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Kemenkes dr. Edduwar I. Riyadi, Sp.Kj., ditemui di Jakarta, Selasa (22/6/2021).
Sementara itu keterisian tempat tidur di rumah sakit juga telah mencapai hingga 90 persen. Namun, menurut Edduwar, Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian tempat tidur di rumah sakit kebanyakan melonjak di Pulau Jawa.
"Jakarta juga. Tapi di luar Jawa masih bisa terkontrol, tidak semeningkat rumah sakit-rumah sakit di Jawa," katanya.
Terkait saran untuk diberlakukan lockdown, Edduwar mengatakan bahwa aturan itu belum disampaikan pemerintah pusat. Hingga saat ini usaha untuk menurunkan angka penularan kasus Covid-19 masih dengan mengetatan tingkat kegiatan masyarakat melalui aturan PPKM mikro.
Baca Juga: Yogyakarta dan Jakarta Tak Mampu Lockdown, Rizal Ramli: Efek Jokowi Malah Sibuk Proyek
"Saya belum dapat informasi karena itu infonya dari pimpinan. Saya kira kita tunggu saja keputusan dari pemerintah dalam beberapa hari ini. Yang jelas pengetatan sudah dilakukan Pemerintah Daerah masing-masing. Dan DKI juga sudah lakukan itu dengan baik dengan mencakup tingkat kampung, desa, RT, RW," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Terbongkar! Kemenkes Tegas soal Pasien BPJS PBI Dinonaktifkan: Rumah Sakit Wajib Tetap Tangani
-
Kemenkes Bangun 66 RS Tipe C di Daerah Terpencil, Apa Saja Fasilitas Canggihnya?
-
Kemenkes Minta Jangan Lagi Ributkan BPJS PBI: RS Harus Tetap Layani Pasien
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Waspada Virus Nipah Mengintai! Kemenkes Ingatkan Jangan Konsumsi Nira Aren Segar dari Pohon
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini