Suara.com - Orangtua cerdas tak bisa jadi jaminan akan memiliki anak cerdas. Itu terjadi karena genetik hanya berperan 20 persen dalam membentuk kecerdasan anak.
Dokter Spesialis Anak sekaligus konsultan tumbuh kembang anak dr. Fitri Hartanto mengatakan, ada faktor lain yang dapat memengaruhi kecerdasan anak, dan itu adalah faktor lingkungan.
"Pengaruh lain, faktor lingkungan di mana 80 persen sangat memengaruhi. Jika orangtua tidak melakukan stimulasi, tidak memerhatikan kesehatan anak, mungkin asupan (gizi) kurang, sehingga banyak orangtua pendidikan tinggi, tapi putra-putrinya ada masalah pertumbuhan," papar dokter Fitri dalam webinar Perayaan Hari anak Nasional, Kamis (29/7/2021).
Untuk itu orangtua wajib tahu apakah anak mereka memiliki tumbuh kembang yang normal. Dan meski yakin memiliki bekal kecerdasan 20 persen secara genetik, tetapi 80 persen faktor lain sangat tergantung dari cara orangtua memenuhi kebutuhan dasar, yakni asuh, asah, dan asih.
Dokter Fitri menjelaskan, yang dimaksud kebutuhan asuh merupakan anak harus terpenuhi kebutuhan nutrisi, cairan, juga lingkungan yang bersih dan sehat.
"Caranya salah satunya dengan imunisasi, membuat rumah dengan ventilasi yang baik, sumber air yang bersih, pencahayaan, jangan lupa berekreasi, ini penting bagi anak dalam memenuhi kebutuhan asuh," ucapnya.
Kemudian kebutuhan asah, dengan menstimulus sel saraf otak anak. Ia mengatakan bahwa 95 persen area otak bertumbuh hingga usia anak enam tahun. Bahkan 80 persen pertama terjadi pada 1.000 hari pertama sejak masih di dalam kandungan.
Dokter Fitri mengingatkan, kalaupun asupan nutrisi anak tercukupi, tetapi sel sarafnya tidak dirangsang, maka tumbuh kembang anak juga tidak akan optimal.
Selanjutnya kebutuhan asih, berupa kasih saya dari orangtua. Namun, Ketua Ikatan Doktet Anak Indonesia (IDAI) cabang Jawa Tengah itu mengingatkan, orangtua maupu anggota keluarganya jangan memberikan kasih sayang negatif kepada anak.
Baca Juga: Pokja FKKMK UGM Pastikan Belum Ada Virus Covid-19 Varian Baru di DIY
"Satu contoh, pada saat dia seharusnya belajar tapi tidak diberi kesempatan belajar. Contohnya, dia belajar ngomong kalau mau sesuatu misalnya minum, namun pada anak sering kali dilayani. Ingin sesuatu hanya dengan gerak tangan atau menarik saja tangan orangtua. Hal ini nanti menyebabkan keterlambatan bicara," jelasnya.
Pemberian kasih sayang yang kurang tepat dan terlalu memanjakan anak juga bisa sebabkan gangguan perilaku. Misalnya, anak terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Namun ketika tidak bisa mendapatkan sesuatu, anak akan marah dan bertindak semaunya.
"Kalau hal ini tidak kita berikan pembelajaran yang benar maka gangguan perilaku tantrum pasti akan terjadi pada anak," ucap dokter Fitri.
Ia menyampaikan , baik kebutuhan asah, asuh, dan asih harus diberikan sepenuhnya kepada anak. Tidak bisa dipisahkan atau dihilangkan salah satunya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya