Suara.com - Selain sikat gigi, banyak yang menambahkan obat kumur ke dalam rutinitas perawatan gigi. Obat kumur dapat membantu membuat napas lebih segar, membilas plak yang tertinggal serta mencegah gigi berlubang.
Namun, penggunaan obat kumur yang salah justru akan membawa efek merugikan. Berikut dirangkum dari Live Strong, ada lima kesalahan penggunaan obat kumur yang dapat mengganggu kesehatan gigi.
1. Langsung menggunakan obat kumur setelah sikat gigi
Berkumur menggunakan obat kumur beberapa detik setelah menyikat gigi justru akan merugikan. Sebab, hal itu akan membuang fluoride dari pasta gigi.
Fluoride menyerap ke dalam email gigi untuk memperkuat, membuat lebih tahan plak, dan membantu mencegah demineralisasi gigi. Namun agar bahannya efektif, perlu waktu untuk melapisi gigi.
Sebaiknya tunggu tiga hingga lima menit agar fluoride bekerja dengan baik sebelum Anda berkumur dengan obat kumur.
2. Menggunakan obat kumur sebagai pengganti sikat gigi
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa obat kumur sudah cukup ketika tidak sempat sikar gigi. Namun perlu diingat bahwa obat kumur bukanlah pengganti menyikat gigi dan flossing setiap hari.
Obat kumur hanya menghilangkan beberapa plak, sehingga masih diperlukan sikat gigi dan flossing untuk menghilangkan plak secara efektif.
Baca Juga: Punya Gigi Sensitif? Hindari 8 Makanan dan Minuman Ini!
3. Salah memilih obat kumur
Obat kumur dapat mengandung berbagai bahan aktif, dan beberapa mungkin tidak cocok untuk orang-orang tertentu. Beberapa orang bahkan bisa sensitif atau alergi terhadap bahan yang ditemukan dalam formula obat kumur
Misalnya, berkumur dengan alkohol atau bahan antibakteri lainnya akan membuat mulut dehidrasi.
"Jadi jika Anda memiliki kondisi seperti mulut kering atau mukositis, berkumur dengan obat kumur berbasis alkohol hanya akan memperburuk masalah," ujar dr. Jeffrey Sulitzer, DMD, kepala petugas klinis SmileDirectClub.
4. Menggunakan obat kumur untuk mengobat bau mulut kronis
Meskipun obat kumur membuat napas lebih segar dan harum secara instan, Anda tidak boleh mengandalkannya untuk mengobati bau mulut kronis.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli