Suara.com - Dalam beberapa minggu terakhir kasus harian Covid-19 Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kini harapan Indonesia keluar dari pandemi dan beralih ke fase endemik pun semakin besar.
Tapi yang jadi pertanyaan, apa kriteria dan tolok ukur kasus Covid-19 berubah dari fase pandemi ke fase endemik?
Dikatakan peneliti sekaligus Pakar Sosiologi Bencana Nanyang Technological University (NTU), Sulfikar Amir, Ph.D, situasi endemik bukanlah situasi di mana penyakit sudah tidak ada di sekitar masyarakat.
"Berbicara pandemi menuju endemik, perubahannya cuma situasi di mana angka kasus bisa diredam di titik tertentu, sehingga mengalami penyakit tidak lagi terjadi lonjakan kasus secara drastis," ujar Sulfikar dalam acara diskusi Aliansi Ilmuan Indonesia, Rabu (1/9/2021).
Sulfikar menambahkan, suatu penyakit dinyatakan berada di fase endemik apabila infeksi harian nasional bisa ditekan hingga di bawah 1.000 kasus baru.
"Sehingga tetap ada yang terkena atau terpapar, tapi langsung diisolasi dan tidak menularkan masyarakat lain," tutur Sulfikar.
Lelaki yang juga berprofesi sebagai dosen NTU Singapura itu mengingatkan pemerintah dan para ahli, bahwa cara terjitu untuk menekan kasus Covid-19 dan mengubah status dari pandemi jadi endemik, adalah dengan cara memaksimalkan dan meningkatkan pelacakan kasus.
"Pelacakan bukan berarti jumlah testingnya yang tinggi, tapi angka lacak kasus, yang apabila idealnya menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) 20 orang melakukan kontak ditracing atau dites pada setiap satu kasus yang ditemukan. Tapi kalau bisa lebih, akan lebih bagus," ungkap Sulfikar.
Selain itu perubahan perilaku pencegahan juga perlu dilakukan untuk mengubah status pandemi Covid-19, seperti tetap menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi, sehingga penularan bisa ditekan seminimal mungkin.
Baca Juga: HUT Polwan ke-73, Kaposlek Tanjung Duren Santuni Anak Yatim Terdampak Pandemi
"Risko penularan itu bisa ditekan sedemikian rupa, ini yang perlu dilakukan. Tujuannya agar kegiatan sosial dan ekonomi bisa dibuka dan tetap berjalan," pungkasnya.
Adapun salah satu penyakit yang sudah berubah menjadi endemik, di antaranya seperti demam berdarah, influenza, hepatitis A, malaria dan lain sebagainya. Penyakit ini masih ditemukan di masyarakat, tapi bisa terkendali dan bisa ditekan penularannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?