Suara.com - Bayi yang terlahir dengan kondisi bibir sumbing dan celah langit terbuka masih cukup tinggi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan mencatat, Indonesia menempati peringkat keempat di Asia terhadap jumlah kasus kelainan bawaan tersebut.
"Prevalensinya mencapai 59,3 persen per seribu kelahiran hidup. Di antara angka tersebut kasus cleft lip dan palate (bibir sumbing dan celah langit) menempati dua terbanyak," kata Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Dr. drg. Dudi Aripin, Sp.KG. (K) dalam konferensi virtual perayaan Hari Senyum Sedunia bersama Yayasan Smile Train Indonesia, Jumat (1/10/2021).
Dokter Dudi mengatakan, kelainan tersebut bukan hanya berpengaruh secara kesehatan tubuh pengidapnya, tapi juga secara psikologis, terutama jika anak terlambat mendapatkan penanganan medis.
"Kalau bayi mungkin tidak terlalu terpengaruh. Kalau sudah agak besar apalagi dewasa pasti sudah terpengaruh jadi merasa minder, tidak percaya diri," ucapnya.
Oleh sebab itu, penanganan bibir sumbing celah langit di rumah sakit sebenarnya bukan hanya operasi saja, lanjut dokter Dudi. Tapi juga pasien perlu diberikan oendampingan psikis untuk memperbaiki mentalnya.
Hal serupa disampaikan Country Manager Smile Train Indonesia Deasy Larasati. Selama 19 tahun Smile Train menangani masalah bibir sumbing dan celah langit di Indonesia menemukan bahwa kelainan tersebut memang mengenai banyak fungsi kesehatan.
"Barangkali kalau untuk orang awam mungkin di penampilan. Tapi sebenarnya dia juga bermasalah di pernapasan, bermasalah di makan, sampai ke paru-paru bahkan pendengaran, dan hal-hal lain yang menjadi sekunder," kata Deasy.
Terutama kelainan pada celah langit, menurut Deasy kondisi itu harus segera diatasi sedini mungkin sejak anak lahir. Agar kemampuan bicaranya bisa seperti orang normal.
"Karena bisa masih sangat jelek kalau langit-langit belum diperbaiki. Jadi kalau melihat dengan kelainan itu sebaiknya sebelum usia 2 tahun. Kalau bibir belum tertutup saya gak terlalu khawatir karena hampir bisa sempurna, bisa kita atasi," pungkasnya.
Baca Juga: Sangat Urgent, Aplikasi PeduliLindungi Kok Belum Terdaftar Resmi di Kominfo?
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Gaya Hidup Sedentari Tingkatkan Risiko Gangguan Muskuloskeletal, Fisioterapi Jadi Kunci Pencegahan
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin