Suara.com - Publik tengah dihebohkan dengan kasus bunuh diri mahasiswi asal Mojokerto akibat meminum racun sianida di makam ayahnya.
Diberitakan sebelumnya, mahasiswi tersebut dilaporkan diperkosa hingga kemudian hamil oleh kekasihnya yang merupakan anggota kepolisian Republik Indonesia berinisial RB.
Bukannya bertanggung jawab, RB malah terus berkelit. Lantaran tidak ada kejelasan dari pelaku, korban lalu melaporkan kejadian tersebut kepada orangtua RB.
Namun, orangtua RB disebut malah meminta korban untuk menggugurkan kandungannya. Korban pun jatuh pada lubang depresi hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik Indonesia.
Sianida sendiri merupakan zat berbahaya yang mengacu pada bahan kimia mengandung ikatan karbon-nitrogen (CN). Meski banyak zat mengandung CN, tapi tidak semuanya mematikan.
Tetapi jika mengandung natrium sianida (NaCN), potasium sianida (KCN), hydrogen sianida (HCNI), dan sianogen klorida (CNCI), maka itu akan disebut sangat mematikan.
Melansir dari Hello Sehat, sianida awalnya digunakan dalam dunia pertambangan, di mana racun tersebut dipakai untuk pengikat logam mulia emas.
Dengan menggunakan teknik amalgamasi dengan sianida, kadar emas yang diperoleh bisa mencapai 89-95 persen, jauh lebih baik dari metode lain yang hanya mencapai 40-50 persen.
Baca Juga: Polda Jatim Sebut Bripda RB Hamili Novia Widyasari dan Minta Gugurkan Kandungan
Setelah perang pecah, penggunaan sianida dialihkan sebagai fungsi zat kimia yang berbahaya, dan mulai digunakan untuk genosida dan racun untuk bunuh diri.
Di sisi lain, sianida juga biasanya digunakan untuk membunuh tikus, curut, dan tikus tanah untuk melindungi panen tanaman pangan.
Selain kasus mahasiswi yang minum racun tersebut, racun sianida juga pernah terjadi pada kasus kopi sianida yang membunuh Mirna.
Sempat menghebohkan masyarakat Indonesia, kasus racun sianida ini telah menjadi salah satu kasus terpanjang dalam sejarah kriminal yang terjadi 2016 silam.
Catatan Redaksi: Hidup seringkali sangat sulit dan membuat stres, tetapi kematian tidak pernah menjadi jawabannya. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan berkecederungan bunuh diri, sila hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah sakit terdekat.
Anda juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com dan telepon di 021 9696 9293. Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan 24 jam.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
Terkini
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar