Namun kini, angka kematian harian sudah ditekan hingga sekecil mungkin. Data per 27 Desember, kasus harian telah turun drastis menjadi 8 orang per hari. Bahkan, angka harian ini pernah mencapai angka terendah yaitu 1 kematian dalam sehari per 28 November lalu. "Meskipun angka kematian sudah berhasil ditekan, nyawa tetaplah nyawa yang tidak tergantikan meskipun hanya satu saja orang meninggal," lanjutnya.
Positivity Rate
Perkembangan baik selanjutnya angka positivity rate, yaitu angka yang menunjukkan banyaknya orang yang terdeteksi positif dari keseluruhan orang yang dites. Kondisinya saat ini cukup baik di angka 0,07%. Meski sebelumnya pada puncak kedua angka ini sempat mencapai 33,25%.
Lalu, angka testing. Pada akhir tahun ini, jumlah angka testing didominasi masyarakat yang berkepentingan skrining seperti untuk syarat perjalanan. Hal ini menunjukkan kebijakan testing sebagai syarat perjalanan efektif mendukung aktivitas masyarakat yang produktif aman COVID.
Sehingga dapat menghindarkan penularan antar wilayah. Meskipun demikian, di tahun depan, angka testing patut ditingkatkan dengan cakupan orang yang dites untuk tracing kontak erat dan testing pada orang bergejala.
Untuk itu, adanya pencapaian baik tersebut tentunya tidak terlepas dari kontribusi seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah. Apalagi, karakteristik Indonesia yang merupakan negara luas dengan jumlah penduduk yang tidak sedikit. Namun dengan upaya keras yang dilakukan bersama akhirnya penanganan berangsur membaik.
Peningkatan Kapasitas
Beberapa upaya yang dilakukan pada tahun ini seperti peningkatan jumlah tempat tidur RS rujukan, laboratorium rujukan, fasilitas isolasi terpusat, serta posko tingkat desa/kelurahan. Rinciannya, upaya pertama, pada tempat tidur ruang isolasi dan ICU rumah sakit rujukan.
Awal tahun 2021, total ada 45 ribu tempat tidur, saat ini meningkat 2 kali lipat hingga 81 ribu. Jika dilihat angka keterisian tempat tidur (BOR), BOR isolasi keterisiannya 2,24% dan BOR ICU 3,88%.
Baca Juga: Bagaimana Jika Varian Delta Dan Omicron Berkombinasi, Epidemiolog: Bisa Bahayakan Dunia
Kedua, jumlah laboratorium rujukan COVID-19. Pada Januari 2021, jumlahnya ada 510 laboratorium. Dibandingkan saat ini jumlahnya meningkat hampir 2 kali lipat atau 902 laboratorium. Terlebih, persentase testing dari laboratorium ini sudah jauh melebihi target testing WHO yaitu sebesar 503% dibandingkan awal tahun lalu sebesar 85%. "Bahkan, saat ini kita memiliki lebih dari 23 ribu fasilitas pemeriksa antigen yang tersebar di seluruh Indonesia," tambah Wiku.
Ketiga, tempat tidur isolasi terpusat. Per Juli 2021, ada 20 ribu tempat tidur isolasi terpusat yang tersebar di seluruh Indonesia. Fasilitas ini siap dan fleksibel diaktifkan kembali sewaktu-waktu dibutuhkan.
Keempat, jumlah posko desa/kelurahan. Posko ini alat pengawasan hingga di tingkat terendah di seluruh wilayah di Indonesia. Sepanjang tahun 2021, pembentukannya mencapai 29 ribu posko. Artinya, 35,81% dari total desa/kelurahan di Indonesia telah memiliki posko. Angka ini tentunya masih harus terus ditingkatkan, mengingat posko merupakan garda terdepan penanganan di tingkat mikro.
Dengan daya dan upaya yang dimiliki Indonesia, menunjukkan kemampuan adaptasi, kesigapan dan resiliensi seluruh lapisan masyarakat dalam penanganan pandemi. Dan ini menjadi modal penting Indonesia untuk terus bertahan melawan tantangan pandemi yang dinamis. Termasuk varian Omicron saat ini, bahkan membawa Indonesia keluar dari pandemi di masa yang akan datang.
Karenanya, dengan memahami kilas balik dapat menjadi pengingat bahwa lonjakan kasus adalah hal yang mudah terjadi apabila lengah. Terlebih pula terdapat faktor-faktor lain yang lebih sulit kita kendalikan, seperti munculnya varian baru.
Yang perlu diperhatikan, ketika sudah terjadi lonjakan kasus membutuhkan waktu lebih lama menurunkannya. Kilas balik ini juga diharapkan menjadi pengingat bahwa betapa besar dampak lonjakan kasus, terutama terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
"Mempertahankan kasus agar tetap rendah dan mengendalikan kenaikan kasus sedini mungkin masih harus menjadi fokus utama kita di tahun yang akan datang," pungkas Wiku.
Berita Terkait
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Dirjen WHO: Hantavirus Bukan Pandemi Baru Seperti COVID-19
-
Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19
-
Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?